Teroris Tak Pernah Berhenti Tambah Teman

BNPT Gelar Literasi Digital Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

228
Sebagian peserta Literasi Digital Pencegahan Radikalisme dan Terorisme mengikuti sesi foto bersama di sela-sela acara, Kamis (02/08/2018), di Hotel Cavinton Yogyakarta. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Terorisme telah disahkan namun hal itu bukan menjadi satu-satunya jaminan aksi teror berhenti. Memang, teroris itu jumlahnya hanya sedikit, bisa  dihitung, akan tetapi mereka tidak pernah berhenti untuk menambah teman.

Hal itu terungkap dalam Literasi Digital sebagai Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat Melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DIY. Kegiatan bertema Saring Sebelum Sharing ini diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kamis (02/08/2018), di Cavinton Hotel Yogyakarta.

“Aksi terorisme dan penyebaran paham-paham terorisme belum menunjukkan tanda-tanda surut di Indonesia sehingga perlu diatasi hingga ke akar-akarnya. Terorisme masih jadi ancaman nyata bagi keutuhan NKRI. Belum tahu kapan akan berakhir,” kata Dr Hj Andi Intang Dulung MHi, Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT, saat membuka  acara tersebut.

Selaku narasumber, di hadapan 100 peserta terdiri dari pegiat media sosial maupun perwakilan dari kalangan kampus, lebih lanjut dia menyampaikan pentingnya semua elemen masyarakat jangan bersikap apatis melainkan perlu bersinergi dan merekatkan silaturahim dalam rangka pencegahan terorisme.

Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT Dr Hj Andi Intang Dulung MHi (tengah) menyampaikan keterangan pers di sela-sela acara. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Menurut Andi Intang Dulung, keberadaan media sosial pun kini dimanfaatkan untuk penyebaran paham yang membahayakan tersebut. Contohnya, penyebaran berita bohong mengenai penggalian makam Imam Samudra. Karena itu, dia berpesan agar masyarakat bersikap cerdas menyaring informasi tersebut.

Hadir pula pada kesempatan itu Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar, Praktisi Marketing Komunikasi Gardjito Kasilo serta Dosen Ilmu Komunikasi UGM Wisnu Martha Adiputra SIP MSi. Ketiganya selaku narasumber mengupas permasalahan tersebut dari sudut pandang keilmuan masing-masing.

Andi Intang Dulung menambahkan, BNPT sebagai lembaga negara akan terus berupaya menekan kejahatan terorisme, salah satunya melalui kegiatan literasi digital. Tujuannya agar tercipta kewaspadaan, ketahanan masyarakat serta terbangun sistem deteksi dini.

Dia mengakui, pemuda memang rentan terpapar oleh paham-paham terorisme. Sama halnya dengan kecanduan narkoba yang merusak generasi muda, jika sudah terpapar paham yang menakutkan itu maka sulit keluar.

Itu sebabnya dalam berbagai kegiatan BNPT selalu melibatkan generasi muda, untuk diberikan bekal berupa wawasan kebangsaan, ideologi bangsa serta keagamaan.

Tamu undangan dan narasumber ikut menggelorakan salam Literasi Digital Pencegahan Radikalisme dan Terorisme. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Dalam upaya mencegah serta menangkal penyebaran paham yang menyesatkan itu, ke depan BNPT menyusun konsep baru yakni mengikutsertakan para guru tingkat pendidikan dasar dan usia dini,  TK dan PAUD.

Bagaimana pun, kata Andi Intang Dulung, anak-anak usia dini mengidolakan guru mereka, sebagaimana mahasiswa yang mengidolakan dosen.

Apabila terdapat guru maupun dosen memiliki pemikiran radikal dan menyebarkannnya, hal itu bisa membahayakan anak didik. Untuk tahap awal, pada 2019 BNPT melakukan pemetaan terlebih dahulu.

Mendampingi Dr Hj Andi Intang Dulung Mhi pada konferensi pers di sela-sela acara, Kasubdit Bintibluh Polda DIY AKBP Sinungwati SH yang hadir mewakili Kapolda DIY Brigjen Polisi Drs Ahmad Dofiri MSi menyatakan Polda DIY saat ini memiliki program unggulan, Satmabhara.

Satuan Mahasiswa Bhayangkara itu kini sudah ada di tiga kampus. Selain berfungsi menjaga keamanan kampus, juga untuk membekali mahasiswa agar imun terhadap paham-paham radikal maupun intoleransi. (sol)