Tiap Desa Harus Punya Bank Sampah

486
Bank Sampah di Desa Sabrang Kecamatan Delanggu yang dibangun tahun 2015. (masal gurusinga/koranbernas.id)

KORAN BERNAS, ID–Pemerintah Kabupaten Klaten benar-benar serius menangani permasalahan sampah. Sampai-sampai menyewa lahan sebagai tempat untuk membuang sampah, membangun TPA sampah baru hingga membangun bank sampah.

Pemkab Klaten terpaksa menyewa 2 tahun tanah kas Desa Candirejo Ngawen sebagai TPA (tempat pembuangan akhir) sampah karena tidak punya TPA dan saat ini sedang membangun TPA baru di Desa Troketon Pedan. Sementara pembangunan bank sampah telah diawali tahun 2015 lalu dengan 10 unit dan telah beroperasi.

Tahun ini, 10 unit bank sampah kembali akan  dibangun. Sepuluh unit bank sampah itu berlokasi di Desa Gledek Karanganom, Mayungan Ngawen,  Pandes Wedi, Granting Jogonalan, Palar Trucuk, Bolo Pleret Juwiring, Pugeran Karangdowo dan Keprabon Polanharjo.

“Saat ini sedang proses lelang dan harapannya bisa segera dibangun dan tahun ini juga selesai,” kata Bambang Subiyantoro, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencemaran Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Klaten, Jumat (08/09/2017)

Ditambahkan, pagu anggaran masing-masing bank sampah Rp 273,5 juta untuk konstruksi yang seluruhnya dari APBD Klaten.

Kedepannya ujar dia, masing-masing desa diharapkan punya bank sampah meski saat ini bank sampah yang sudah ada baru sekitar 41 unit yang dibangun pemkab, CSR perusahaan dan oleh desa.

Selanjutya setelah bank sampah selesai dibangun, pengelolaannya diserahkan oleh warga yang petugasnya minimal 3 orang. Bagi bank sampah yang sudah didirikan pemkab pada 2015, petugasnya dibina oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Mereka bekerja dengan sistem kontrak dan menerima honor setiap bulan.

Salah seorang pengelola bank sampah Desa Sabrang Delanggu, Legiman menjelaskan di bank sampah Sabrang ada 3 orang pengelola. Mereka dikontrak oleh Dinas Lingkungan Hidup selama 6 bulan dan bekerja mengelola sampah dari warga.

“Untuk sampah daun bisa dicacah jadi pupuk kompos. Sedangkan plastik-plastik bisa dikumpulkan dan dijual lagi karena punya nilai ekonomis,” jelasnya seraya berkata pekerjaan itu dijalani dengan senang karena ada hasilnya dan bisa buat tambah-tambah belanja keluarga. (Masal Gurusinga/SM)