Tidak Ada Tulang, Hanya Tanah yang Dipindah

203
Warga menggali makam untuk direlokasi ke luar lokasi calon bandara. (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Relokasi di wilayah terdampak bandara untuk semua penghuninya. Tidak hanya warga yang masih hidup,  yang sudah meninggal di pemakaman pun harus direlokasi.

Adapun jumlah tempat pemakaman umum (TPU) terdampak proyek bandara di Temon sejumlah 20 titik. Yakni, lima titik TPU di Desa Glagah, empat titik di Kebonrejo, dua titik di Jangkaran, satu titik di Sindutan, dan delapan titik di Palihan.

Proses relokasi tempat pemakaman umum (TPU) terdampak pembangunan bandara di Temon kini mulai dilakukan. Kebonrejo jadi desa pertama yang melakukannya.

Desa terdampak terbesar untuk Glagah belum dapat dilakukan. Pemerintah desa setempat hingga kini masih melakukan proses pengurugan lahan seluas 9.300 meter persegi untuk areal relokasi pemakaman. Ada 1.500 liang makam warga dari tiga pedukuhan yang akan dipindahkan.

“Pekan depan mungkin sudah selesai diurug dan langsung kita lanjutkan pemindahan makam,” kata Agus Parmono, Kepala Desa Glagah, Jumat (10/11/2017).

Baca Juga :  Sejumlah 270 KK Perajin Gerabah Terancam Bangkrut
peti jenazah disiapkan saat proses relokasi makam. (sri widodo/koranbernas.id)

Di Kebonreja ada lebih dari 400 liang untuk empat titik pemakaman di beberapa wilayah pedukuhan yang harus dipindahkan. Sekitar 300 liang di pemakaman Jaleyang (Pedukuhan Weton) dan 98 liang di pemakaman Sambijoyo (Pedukuhan Seling).

Selain itu, juga ada dua liang di pemakaman tua Siledek dan 106 liang di makam Ngringgit yang akan dipindahkan.

“Makam di Jaleyang dan Sambijoyo akan dipindah ke lahan yang sudah dipersiapkan di Pedukuhan Weton. Sedangkan Siledek dan Ngringgit akan dipindah ke lahan Desa Palihan karena selama ini statusnya hanya menumpang di Kebonrejo,” kata Slamet,  Kepala Desa Kebonrejo.

Pembongkaran dan pemindahan makam sudah berlangsung sejak Senin (06/11/2017) dan diperkirakan rampung pekan depan. Tidak ada kendala berarti dalam proses tersebut mengingat usia makam kebanyakan sudah tua, lebih dari 40 tahun.

Baca Juga :  Satu-satunya Ekskul Adiwiyata, Ini Dia Sekolah yang Menerapkannya

Sejak dicanangkan pembangunan bandara warga yang meningggal dimakamkan ditempat lain yang tidak terdampak.

“Di makam ini, rata-rata yang terhitung baru sudah berusia 4 tahunan. Sudah susah menemukan tulang belulang jenazah, akhirnya hanya diambil tanahnya saja untuk dipindah ke makam baru,” kata Slamet.

Relokasi makam disokong dana senilai total Rp 2,5 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang bersumber dana ganti rugi sarana umum terdampak bandara.

Dana ini termasuk untuk keperluan pengurugan tanah kas desa seluas 5.000 meter persegi sebagai areal pemakaman baru, pembongkaran liang, pembelian perlengkapan jenazah (peti, kain kafan), hingga penguburan kembali dan pembenahan makam baru.

“Seluruh liang dibikin seperti halnya makam pahlawan dengan nisan baru yang seragam. Di areal baru, pemakaman buat per blok agama jenazah bersangkutan,” kata Slamet. (sol)