Tiga Antologi Puisi Siap Diluncurkan

585

KORANBERNAS.ID — Tiga antologi puisi karya dari penyair yang berbeda siap di-launching di Sastra Bulan Purnama, Jumat (06/10/2017) pukul 19:30, di Tembi Rumah Budaya Jalan Parangtritis Km 8,5 Tembi Timbulharjo Sewon Bantul.

Ketiganya adalah, Pagar Kenabian karya Sofyan RH Zaid (Bekasi), Alarm Sunyi karya Emi Suy (Jakarta) dan Pemali karya 13 penyair muda dari komunitas Bumiayu Creatie City Forum (BCCF).

Pada peluncuran buku kumpulan puisi di Sastra Bulan Purnama 73 ini, selain para penyair membacakan puisi karyanya, akan tampil pula kelompok musik Benang Merah dari Solo.

Ons Untoro selaku Koordinator Sastra Bulan Purnama menyebutkan, tajuk dari Sastra Bulan Purnama edisi 73 ini Pemali Menghidupkan Alarm Di Pagar Kenabian.

“Tajuk ini diambil dari judul tiga antologi puisi yang di-lancunching dan digabung menjadi satu. Agar ketiga antologi tidak terpisah dalam launching, maka formulasi dari tiga judul dijadikan satu tema,” ujarnya.

Baca Juga :  Hafidh Asrom: Pemerintah Harus Perhatikan Pesantren

Dari tiga buku antologi puisi terdapat 15 penyair, karena pada buku berjudul Pemali merupakan antologi bersama.

Dimas Indiana Senja, seorang penyair muda dari Bumiayu dan cukup lama tinggal di Yogyakarta, dialah penggagas BCCF ini.

“Buku ini adalah sejarah. Untuk pertama kalinya di Kabupaten Brebes pada umumnya, dan Bumiayu Raya khususnya muncul komunitas sastra yang solid dan  produktif,” ungkap Dimas.

Buku ini hanyalah penanda. “Di luar itu, spirit membangun masyarakat dengan jalan kebudayaan tumbuh sangat subur di sanubari penyair-penyair dari komunitas ini,” tambahnya.

Sofyan RH Zaid penyair asal Sumenep Madura yang kini tinggal di Bekasi menyebutkan, bagaimana pun menerbitkan antologi puisi seperti mengunjuk layang-layang.

Penjelasannya, harus mampu membaca arah angin, menaikkan layang-layang, mengulur tali, dan membiarkannya menari di udara.

Baca Juga :  Trianingsih Ingin Ilmunya Bermanfaat

“Setelah itu kita duduk sambil sesekali melihatnya, apakah layang-layang itu masih di sana dan mampukah bertahan melawan angin? Atau jangan-jangan sudah menukik ke tanah, putus tali, tersangkut ranting atau habis dihajar hujan,” ujar Sofyan RH Zaid.

Emy Suy, penyair dari Magetan yang kini tinggal di Jakarta, telah menerbitkan puisi dalam sejumlah antologi puisi bersama.

Baginya, antologi puisi Alarm Sunyi ini setidaknya merupakan upaya pertaruhan eksistensi kepenyairannya.

Joko Pinurbo, seorang penyair Yogyakarta yang memberi pengantar buku Emy Suy menyebutkan, judul kumpulan puisi ini sebenarnya sudah menyiratkan inti permenungan dari sajak-sajal Emi Suy.

Alarm Sunyi adalah diksi yang mengandung kontradiksi dalam dirinya sendiri karena terdiri atas dua kata yang berlawaban makna.

“Kontradiksi makna itulah yang mengantarkan kita kepada kesadaran mengenai fungsi (ke)sunyi(an) dalam kehidupan manusia,” kata Joko Pinurbo (sol)