Tim Angkasa Pura Disambut Kentongan Tanda Bahaya

919

KORANBERNAS.ID –– Penyampaian Surat Peringatan (SP) III pengosongan rumah dan lahan kepada warga penolak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) di wilayah Desa Glagah Kecamatan Temon Kulonprogo, Rabu (25/04), diwarnai penolakan.

Kedatangan tim dari PT Angkasa Pura I disambut dengan titir (kentongan tanda bahaya) serta diusir oleh warga. Terhadap penolakan tersebut, Pimpro Pembangunan NYIA PT Angkasa Pura I (Persero), Sujiastono, mengatakan penolakan warga terhadap SP III yang diantarkan oleh tim bukanlah masalah yang berarti.

Nggak apa-apa, proses jalan terus,” ujarnya. Dia belum dapat memberikan jawaban pasti tentang langkah pengosongan. Karena  PT AP I masih perlu berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat.

Dia berharap warga segera memproses pengambilan uang ganti untung di pengadilan. Agar uang tersebut bisa dimanfaatkan untuk kepentingan warga dan membangun kehidupan baru yang lebih baik.

Uang yang dititipkan di pengadilan tidak berbunga atau bertambah nominalnya. “Apabila tidak segera diambil, warga yang akan rugi sendiri. Saya harap warga bisa keluar tanpa dipaksa. Kami sedang membangun,” ujarnya.

Sertifikat tak berlaku

Dia menegaskan, tidak ada hak mutlak bagi warga negara untuk memiliki tanah. Apabila negara membutuhkan, maka hak warga beralih menjadi hak negara. Begitu juga dalam perkara konsinyasi IPL NYIA. Sertifikat tanah milik warga yang diaku sebagai bukti hak milik atas aset, sudah tidak berlaku lagi.

Baca Juga :  Usaha Terpuruk karena Jalan Daendels Ditutup

Tim mendatangi sejumlah rumah warga penolak bandara di wilayah Pedukuhan Kragon II Desa Palihan dan Pedukuhan Sidorejo, serta Bapangan Desa Glagah untuk menyerahkan surat peringatan.

Warga yang didatangi mayoritas menolak SP III yang disampaikan. Ketika menemui salah seorang warga Pedukuhan Sidorejo, warga yang berkumpul di salah satu rumah bersikap tidak ramah dengan tim AP I yang datang.

Mereka  kemudian membunyikan kentongan titir sehingga warga yang lain berdatangan.

Kepada tamu mereka warga berteriak bersahutan menolak serta mengusir kedatangan tim AP yang berniat menyampaikan SP III. “Nang omahe dhewe kok kon lunga. Lunga kana!” kata seorang warga.

Tim AP I yang didampingi petugas keamanan dari kepolisian dan TNI akhirnya meninggalkan lokasi itu. Saat menemui warga lainnya, Tuginah, di Pedukuhan Bapangan, surat SP III yang disampaikan juga ditolak.

“Ini SP ketiga Bu, setelah SP III akan ada pengosongan lahan. Mau membaca dulu atau kami bacakan SP-nya?,” kata salah seorang satu petugas dari AP I, Mahesa.

Baca Juga :  Bekas Bangsal VIP Jadi Tempat Perawatan ODGJ

Tuginah tidak peduli, dia tetap menolak pembebasan tanah serta tidak mau menerima, membaca, maupun dibacakan surat peringatan ketiga tersebut. “Wong ra oleh ki ra oleh, nganti suk kapan ya ra oleh,” katanya.

Tim  juga mendatangi tokoh Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo (PWPP-KP) Purwinto, namun tidak di dalam lahan IPL.

Purwinto berada di rumah relokasi Glagah. Warga Pedukuhan Bapangan itu tetap mempertahankan rumah dan tanahnya yang berada di dalam IPL bandara. Meskipun dia tinggal di rumah relokasi bersama istrinya.

“Sikap saya tetap seperti dulu, bertahan. Apa yang terjadi semuanya saya serahkan pada Yang Kuasa. Saya di  rumah relokasi ini karena saya menghargai hak istri saya. Istri saya mengikuti situasi zaman, dia membolehkan tanahnya dibebaskan untuk bandara. Tapi saya lain, saya tetap menolak pembebasan,” katanya.

Agus Andrianto dari PT AP mengungkapkan, SP III yang didistribusikan tersebut sebanyak 71 surat yakni bagi pemilik serta ahli waris lainnya. Sebagian surat dititipkan ke pemerintah desa untuk yang tinggalnya di luar daerah. (sol)