Tokoh Muda NU Ingatkan Amien Rais

818

KORANBERNAS.ID– Prihatin atas pernyataan kontroversial partai setan dan partai Allah yang dilontarkan mantan Ketua MPR RI Amien Rais, tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Masyhuri, mengingatkan Amien Rais agar meneladani KH Ahmad Dahlan, sosok ulama panutan yang rendah hati.

“Sebagai seorang tokoh, Amien Rais perlu belajar dari sikap tawaduk KH Ahmad Dahlan,” kata Masyhuri, Selasa (16/04/2018), di Yogyakarta.

Siapa yang tidak kenal KH Ahmad Dahlan? Pendiri Muhammadiyah itu memiliki hubungan sangat erat dengan pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, ketika sama-sama nyantri di pondok pesantren yang sama.

Menurut Masyhuri, KH Ahmad Dahlan dan para ulama terdahulu selalu bersikap bijak. Mereka berdakwah dengan cara-cara santun sebagai cerminan dari ajaran Islam yang ramah, bukan Islam yang gampang marah.

Cara berdakwah dengan merangkul bukan memukul apalagi menjelek-jelekkan merupakan representasi kultur Mataram Islam yang identik dengan kultur masyarakat Yogyakarta.

“Sebagai sesama saudara yang bareng-bareng hidup di Jogja, saya menyarankan agar Pak Amien Rais kembali ke jati dirinya sebagai masyarakat Jogja yang senantiasa mengedepankan sikap saling asah, asih dan asuh,” ujar Masyhuri.

Baca Juga :  Keluarga Harus Berperan Aktif dalam Pendidikan

Apalagi Amien Rais adalah publik figur maka sudah semestinya mengeluarkan statemen yang ngayemi dan ngayomi, bukan sebaliknya melontarkan pernyataan yang bisa memecah belah masyarakat dan bangsa ini.

Budaya Jawa wabil khusus Yogyakarta sangat mengedepankan sopan santun, tata krama dan etika. Nilai-nilai itu harus melekat dalam perilaku berpolitik, termasuk dalam diri Amien Rais.

Ketika sudah masuk ranah politik, siapa pun pasti ingin menang dan itu adalah hal wajar. Namun demikian filosofi Jawa menang tanpa ngasorake nglurug tanpa bala tidak boleh diabaikan. Norma dan etika tetap harus dipegang.

“Menang tanpa ngasorake jangan diartikan seakan-akan boleh menggunakan segala cara untuk menjatuhkan lawan. Tanpa harus membuat statemen yang bisa memecah belah bangsa, saya yakin Pak Amien Rais memahami filosofi tersebut,” tambah Masyhuri.

Baca Juga :  Pengelolaan Keuangan Pemkab Sleman Semakin Bagus

Baginya, nglurug tanpa bala dengan tujuan mencari teman koalisi dan relasi untuk maju dalam pertarungan politik, memang tidak dilarang karena sesuai dengan demokrasi.

Masyhuri menambahkan, ungkapan nglurug tanpa bala juga memiliki makna lebih dalam. Artinya, seorang ksatria tidak akan pernah menjatuhkan lawannya dengan cara tidak santun bahkan sampai harus memfitnah dan melakukan pembunuhan karakter.

“Jika tidak mau bergabung dianggap musuh dan harus diperangi, ini sangat berbahaya untuk kehidupan berbangsa dan juga membahayakan keutuhan NKRI. Apakah cara-cara Pak Amien dengan membuat statemen partai setan dan partai Allah itu mencerminkan kultur Jogja?” tambahnya.

Menurut Masyhuri, sebagai orang yang dituakan Amien Rais sudah waktunya madeg pandhita. Kalau boleh disebut sebagai guru bangsa, dia juga menyarankan Amien Rais bisa ngayemi dan ngayomi sekaligus melindungi semua anak bangsa meskipun berasal dari partai politik yang berbeda-beda. (sol)