Ulama Ajak Pesantren Bersih dari Paham Radikal-Teroris

155
Sarasehan dan silaturahim kebangsaan Ulama-Pesantren di Ponpes BINBAZ Sitimulyo Piyungan Bantul, Jumat (31/08/2018). (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Pondok Pesantren Bin Baz Sitimulyo Piyungan dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan sarasehan kebangsaaan, Jumat (31/08/2018).

Acara yang  dilanjutkan deklarasi itu dihadiri jajaran Muspika Piyungan, pengasuh pondok Ustadz Abu Nida dan ratusan peserta dari berbagai elemen termasuk para santri.

Deklarasi dipimpin oleh Saifudin SAg dari KUA Piyungan dengan tema Bersatu Menjaga Kerukunan dan Bersinergi Melawan Upacaya Pemecah Belah Bangsa.

“Sejak zaman perjuangan kemerdekaan hingga sejarah perjalanan bangsa saat ini, peran ulama, pesantren dan tokoh masyarakat sangat besar jasanya,” ujar Saifudin.

Tidak hanya harta, jiwa dan raganya, tapi semangat dan pengabdian kalangan pesantren bagi kemerdekaan, pembangunan, membina kerukunan umat, berbangsa dan beragama tidak dapat dinilai jumlahnya.

Dalam berbagai situasi, ulama, pesantren dan masyarakat selalu tampil di garda depan menjaga kerukunan dan membentengi umat dari pengaruh adu domba.

Bahkan saat terjadi konflik, ulama, pesantren dan tokoh masyarakat jadi ujung tombak meredam dan memediasi pihak-pihak yang berkonflik guna mengembalikan situasi tetap rukun dan damai.

Baca Juga :  RAPI Ngemplak Bersihkan Sampah Pandansari

“Saat ini ulama turut dijadikan sorotan karena adanya oknum yang melibatkan diri dalam pusaran konflik. Beberapa pesantren juga dihadapkan pada stigma sarang terpaparnya paham radikal dan terorisme,” ungkapnya.

Masyarakat sepertinya begitu mudah terprovokasi oleh upaya pemecah-belah umat. “Berawal dari keprihatinan inilah silaturahim kebangsaan ini digelar,” jelasnya.

Peserta kemudian mendeklarasikan pernyataan sikap bersama. Pertama, menolak segala bentuk pelibatan ulama, pesantren dan masyarakat dalam aksi yang merusak kerukunan dan memecah belah bangsa.

Kedua, menolak adanya stigma pesantren sebagai sarang radikal-teroris dan antiPancasila.

Ketiga, mengajak dan mendorong semua pihak bekerja sama dengan ulama pesantren dan masyarakat menjaga kerukunan dan bersinergi melawan upaya pemecah-belah bangsa.

Keempat, mengimbau semua pihak turut serta dan berperan aktif menjaga kerukunan dan perdamaian di wilayah masing-masing.

Baca Juga :  Pemda DIY Perlu Tambah PPNS

“Upaya pemerintah mewujudkan situasi Yogyakarta yang damai dan berhati nyaman perlu memperoleh dukungan,” katanya.

Ustad Abu Nida selaku pengasuh Ponpes Bin Baz Piyungan mengatakan pemerintah perlu menggandeng para ahli sunnah guna menjaga kerukunan bangsa. “Karena ahli sunnah itu tidak menghendaki pertumpahan darah,” kata Ustad Abu.

Terkait khilafah, menurut dia, tidak masalah dipelajari di pesantren. “Kalau cuma dipelajari di pesantren tidak ada yang salah. Misal tentang menjaga harta, menjaga kehormatan. Itu tidak apa-apa dipelajari di pondok. Yang dilarang adalah menerapkannya,” kata Ustadz Abu.

Dr H Muhammad Taufik MA dari UIN Sunan Kalijaga mengatakan jiwa besar umat Islam adalah Pancasila yang sudah sangat sesuai ajaran Islam.

“Tidak bisa kita pungkiri tahun 2018 suhu politik mulai menghangat. Kadang ada berita-berita hoax, ini harus kita sikapi dengan tidak turut menyebarkannya,” kata Taufik. (sol)