Tukang Parkir Ini Raup Rp 40 Juta Berkat Perpustakaan

158
Kuat (kiri) menjawab pertanyaan dalam Pameran dan Penyerahkan Buku Panduan “Transformasi Perpustakaan yang Berkelanjutan” di Atrium Plaza Ambarrukmo, Jumat (06/07/2018).(yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Mungkin buat Wahid, mimpi jadi pengusaha tak pernah terlintas di pikirannya. Sebagai tukang parkir di kawasan perpustakaan Pamekasan, Madura, mimpinya bisa beternak ayam sulit jadi kenyataan.

Namun dia tak putus asa. Alih-alih mengubur mimpi, dia memberanikan diri untuk masuk ke perpustakaan dan membaca buku-buku tentang cara beternak ayam.

Tak berhenti disitu, Wahid bahkan belajar internet di perpustakaan. Dia juga mengikuti program pelatihan PerpusSeru (perpustakaan seru) untuk menambah pengetahuan dan ketrampilannya sebagai peternak sekaligus menjualnya secara luas.

Berkat ketekunannya, dari dua ekor ayam yang dipelihara, Wahid kini punya 1.000 ekor ayam di peternakan miliknya. Omzet penjualannya pun tidak main-main. Wahid bisa menghasilkan Rp 40 juta dari hasil ternaknya setiap tahun.

“Walaupun belum lama tapi dari ternak ayam ini saya bisa dapat omzet sepuluh juta per tiga bulan,” ungkap Wahid dalam Pameran dan Penyerahkan Buku Panduan “Transformasi Perpustakaan yang Berkelanjutan” dari Coca-Cola Foundation Indonesia kepada Perpusnas dan Bappenas di Atrium Plaza Ambarrukmo, Jumat (06/07/2018).

Tak hanya menjadi peternak ayam, berkat belajar internet di PerpusSeru, Wahid bersama istrinya saat ini mampu membuka katering. Mereka bahkan memasarkan produk olahan ternak melalui media sosial (medsos).

Pengalaman serupa diceritakan Kuat yang mengaku saat ini berhasil memiliki usaha reparasi elektronik berkat belajar dari internet dan mendapatkan pelatihan dalam program PerpusSeru. Meski memiliki keterbatasan fisik dan harus berada di kursi roda, dia tidak putus asa belajar ketrampilan di bidang kelistrikan.

“Awalnya hanya lihat-lihat di internet cara mereparasi barang-barang elektronik tapi kemudian diajak ikut pelatihan kelistrikan dan sekarang sudah punya usaha sendiri,” jelasnya.

Titie Sadarini, Chief Executive Coca-Cola Foundation Indonesia mengungkapkani program PerpuSeru telah berada di 18 provinsi, 104 perpustakaan Kabupaten, 768 perpustakaan Desa dan telah memberikan dampak ekonomi dan sosial pada masyarakat. Perpusnas RI didukung oleh Bappenas mulai melakukan replikasi PerpuSeru di 60 perpustakaan kabupaten pada tahun 2018. Pada tahun 2019 Bappenas telah menyetujui program PerpuSeru untuk masuk ke dalam Prioritas Nasional.

Melalui kerjasama tersebut maka pembangunan manusia melalui pengurangan kemiskinan dan peningkatan pelayanan dasar jadi prioritas. Selain itu pemerataan layanan pendidikan berkualitas  dengan kegiatan prioritas juga difokuskan.

“Kami juga melakukan penguatan literasi untuk kesejahteraan dengan target tiga ratus perpustakaan kabupaten,” paparnya.

Kepala Perpusnas RI, Muhammad Syarif Bando mengungkapkan program PerpuSeru telah mencapai sekitar 14 juta masyarakat yang mengakses layanan perpustakaan. Sebanyak 2.300 staf perpustakaan kabupaten/Kkota dan library supporter telah dilatih strategi-strategi pengembangan perpustakaan, 300 orang fasilitator telah dilatih dan siap untuk mendorong pengembangan perpustakaan di kabupaten sampai ke desa, dan 65 trainer nasional telah dilatih dan siap memfasilitasi transformasi perpustakaan secara nasional.

“Selain itu, aplikasi Kunang-kunang untuk sistem informasi manajemen Perpustakaan telah diterapkan di 53 perpustakaan Kabupaten/Kota dan di 100 perpustakaan Desa/Kelurahan/TBM yang ke depan akan terintegrasi dengan program aplikasi manajemen sisitem informasi perpustakaan – INLISLite dari Perpusnas RI,” tandasnya.

Kepala Sub Direktorat Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Didik Darmanto menambahkan, Pemerintah mendorong kebijakan transformasi pelayanan perpustakaan berbasis inklusi sosial ke dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP 2019) menjadi kegiatan Prioritas Nasional – Penguatan Literasi untuk Kesejahteraan.

“Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan peran perpustakaan dalam pembangunan sosial-ekonomi,” imbuhnya.(yve)