Tunarungu pun Harus Bermimpi Besar

301
Peserta outreach foto bersama di sela-sela pelatihan, Selasa (10/04/2018) malam. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Semua orang hidup membutuhkan uang atau penghasilan, tidak terkecuali tunarungu dan tunawicara. Penyandang tunarungu dan tunawicara harus bisa mandiri mendapatkan penghasilan. Ada empat sumber penghasilan yang bisa diperoleh yaitu pemberian, menjadi pegawai, memproduksi dan menjual.

Harapan itu disampaikan Kepala Dinas Sosial dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kebumen, dr Budi Satrio MKes, pada  pembukaan  Outreach,  penjangkauan pelayanan, Panti Sosial Bina Rungu Wicara (PSBRW) Melati Jakarta, di Kebumen  Selasa (10/04/2018) malam.

Mereka harus fokus menentukan jenis usaha atau perdagangan apa yang akan dipilih. Mereka juga harus memiliki mimpi besar menjadi kaya atau sukses sebagaimana langkah awal dari seorang pengusaha. Selain mimpi, harus  kerja keras, tidak boleh putus asa dan berdoa.

Outreach PSBRW Melati diadakan atas kerja sama intens antara PSBRW Melati Jakarta dengan Disdalduk Kebumen. Tujuan kegiatan ini agar mereka terjangkau pemberdayaan ekonomi.

Kepala PSBRW Melati Jakarta, Pujiyono, menjelaskan PSBRW Melati Jakarta merupakan UPT Kementerian Sosial RI yang melayani Indonesia bagian barat. Sedangkan untuk Indonesia tengah di Kota Kendari dan Indonesia bagian timur ada di Kupang.

Penjangkauan dan pelatihan bagi penyandang tunarungu dan tunawicara diikuti 60 orang. Mereka diberi motivasi, keterampilan komunikasi, keterampilan memproduksi dan menjual serta pemberian modal.

Sebelum pelatihan, seluruh peserta dites audiometri. Hasilnya semua peserta menyandang gangguan pendengaran berat. Sebanyak lima orang peserta tidak bisa berkomunikasi karena tidak pernah sekolah, sehingga tidak bisa menulis dan tidak bisa bahasa isyarat.

Pemilihan Kebumen sebagai lokasi penjangkauan di Indonesia barat sudah melalui berbagai skrening. Salah satunya jumlah penyandang dan keaktifan dinas teknis memfasilitasi penyandang tunarungu dan tunawicara.

Pelatihan dilaksanakan selama 5 hari sejak Selasa (10/04/2018)  sampai Jumat (13/04/ 2018). Pelatihan lebih banyak praktik kerja.

Budi Satrio berharap, pelatihan semacam bisa dilaksanakan setiap tahun. Jika diperlukan Pemkab Kebumen siap dengan dana sharing  APBD.

Penyandang tunarungu dan tunawicara ada masalah ekonomi dan kesejahteraan, karena akses informasi belum terbuka dengan sempurna.

Pihaknya terkendala tenaga pelatih, terutama penterjemah bahasa isyarat. Walaupun sudah ada pelatihan menambah tenaga penterjemah bahasa isyarat Bisindo, tetapi keterampilannya masih harus ditingkatkan.

PSBRW Melati membawa penterjemah yang setiap hari menjadi penterjemah berita di stasiun TVRI Jakarta. (sol)