Turnamen Bulutangkis di Daerah Minim

197
Mantan pebulutangkis dunia, Alan Budi Kusuma. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Mantan pebulutangkis dunia, Alan Budi Kusuma menyatakan, saat ini jumlah turnamen bukutangkis di tingkat daerah masih minim. Akibatnya pembibitan atlet muda tidak bisa dilakukan secara optimal.

Padahal sebagai salah satu cabang olahraga (cabor) yang sering memenangi berbagai kejuaraan maupun turnamen di tingkat dunia, pemerintah dan Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) selalu mentargetkan hasil yang paling baik. Untuk mencapai target itu, Indonesia butuh banyak pemain baru karena tidak bisa hanyamengandalkan pemain-pemain yang sudah ada saat ini.

“Tahun ini misalnya, kita mentargetkan hasil terbaik di tiga turnamen, baik di tingkat Asia maupun dunia. Di semua kejuaraan itu kita harus menang, padahal skala prioritas pembinaannya tidak ada ,” papar Alan disela Daihatsu Astec Open (DAO) 2018, Senin (23/04/2018).

Baca Juga :  Jogja Kota Pertama Audisi SUCA ke-4

Minimnya turnamen, menurut Kabid Sponsorship PB PBSI tersebut salah satunya dikarenakan klub-klub bulutangkis lebih banyak dimiliki perseorangan. Sehingga penjaringan bibit pemain muda lebih sulit dilakukan.

Kondisi ini berbeda dari negara lain ketika klub-klub di negara maju seperti Jepang. Klub-klub olahraga, termasuk bulutangkis lebih banyak dimiliki perusahaan.

“Perusahaan juga menjamin kesejahteraan para atlet. Meski menjadi pegawai di perusahaan yang bersangkutan, mereka tetap fokus latihan tujuh kali seminggu,” tandasnya.

Karena itulah PB PBSI mencoba menjalin kerjasama dengan berbagai stakeholder, termasuk perusahaan-perusahaan besar untuk mendukung pengembangan perbulutangkisan Indonesia. Diantaranya melalui gelaran turnamen selevel dibawah nasional untuk menjaring bibit-bibit unggul sejak dini.

“Melalui turnamen di berbagai daerah maka bibit pemain baru bisa dicari,” imbuhnya.(yve)

Baca Juga :  Generasi Ketiga Selamatkan Perajin Batik