UAD Akuisisi BPR Syariah yang Hampir Kolaps

513
Jajaran Rektorat UAD bersama awak media mengunjungi BPR Carana Kiat Andalas di Padang Luar Sumbar, Kamis (15/02/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta melakukan akuisisi Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Carana Kiat Andalas di Padang Luar Sumatra Barat (Sumbar).

BPR yang kemudian menjadi salah satu amal usahanya tersebut akhirnya lepas dari keterpurukan hanya dalam waktu dua tahun terakhir.

“Terjadi mismanajemen di BPR ini sehingga tahun 2015 kami ambil alih sebagai salah satu amal usaha UAD,” ungkap M Safar Nasir, Wakil Rektor II UAD, dalam kunjungan rektorat bersama sejumlah awak media di kantor BPR Carana Kiat Andalas  Padang Luar, Kamis (15/02/2018).

Menurut Safar, pengambialihan tersebut dilakukan untuk menyehatkan lembaga perbankan itu. Sehingga BPR itu dapat kembali beroperasi sesuai aturan dari Orientasi Jasa Keuangan (OJK).

UAD juga melakukan pengawasan manajemen agar terus berjalan sesuai aturan. Selain itu membantu menumbuhkan pasar lebih luas. “Diharapkan BPR syariah ini ke depan akan semakin bertambah profitnya,” ujarnya.

Baca Juga :  ISYF Ingin berkontribusi Bagi Pemuda Indonesia

Sementara Yayan Hadi Saputro selaku Direktur Utama BPR Carana Kiat Andalas mengungkapkan, sebelum menjadi amal usaha UAD, BPR tersebut mengalami kredit macet hingga 56 persen.

Memiliki empat kantor cabang, BPR tersebut mendapatkan peringatan dari LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) karena melanggar aturan OJK yang mewajibkan lembaga perbankan harus memiliki minimal 5 persen modal awal atau Capital Adequacy Ratio. “Pada kenyataannya kami hanya punya modal di bawah satu persen, bahkan hampir minus,” jelasnya.

UAD kemudian mengucurkan dana Rp 550 juta pada 2015 sehingga modal mereka naik jadi 9 persen. Kampus tersebut kembali menambah dana sebesar Rp 950 juta pada 2016 hingga BPR ini punya modal lebih dari Rp 1,5 miliar.

Baca Juga :  Ratusan Pebulutangkis Muda Perebutkan Susi Susanti

Pembiayaan yang bermasalah pun diatasi dengan menambah simpanan dan deposito. Berkat berbagai upaya yang dilakukan, termasuk mengubah pasar, maka BPR tersebut sudah mampu mengurangi kerugian dari Rp 500 juta per tahun pada 2015 menjadi untung Rp 45 juta pada awal 2018.

“Kami menyasar warga Muhammadiyah seperti lembaga pendidikan, rumah sakit dan pimpinan Asiyiyah selain tetap melayani masyarakat lainnya,” ungkapnya.

Pada saat ini BPR tersebut memiliki lebih dari 2.000 nasabah. Dari jumlah itu, 20 persen di antaranya merupakan warga Muhammadiyah. “Saat ini kami punya dana lebih dari Rp 4,2 miliar,” kata Yayan Hadi Saputro. (sol)