Underpass Terpanjang se-Jawa Siap Dibangun

1623
Tim dari Bina Marga DIY melakukan pemetaan, Selasa (02/04/2018). (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.IDUnderpass atau terowongan terpanjang di pulau Jawa siap dibangun di wilayah Kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo.

Nantinya terowongan itu panjangnya mencapai 800 meter dengan lebar sekitar hampir 20 meter. Sedangkan kedalaman tiga meter di bawah permukaan tanah kawasan New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Pemetaan lokasi mulut underpass sudah dilakukan oleh tim survei dari Bina Marga DIY, Selasa (02/04/2018).

Heri Anggaradi dari Bina Marga DIY kepada wartawan mengakui pekerjaan itu baru merupakan pemetaan awal dari rencana pembangunan underpass terpanjang tersebut.

“Kami melaksanakan pemetaan lapangan pekan ini guna menghimpun data kebutuhan tanah untuk membangun pintu underpass atau disebut inlet outlet underpass. Butuh lahan selebar 35 meter. Inlet outlet itu sendiri ditambah jalan akses kampung dua meter untuk trotoar dan selokan,”  ujarnya.

Baca Juga :  Sleman Kaya Aneka Ragam Budaya

Lebar di dalam terowongan untuk dua lajur jalan masing-masing 7,5 meter sehinggga jalan ada 15 meter. Di tengahnya ada beton pembatas sebesar sekitar 0,7 meter. Di sisi janan kiri ada semacam trotoar masing-masing 70 sentimeter.

“Karena kedalaman terowongan tiga meter, awal memasuki terowongan dibuat jalan menurun kemiringan 3 derajat. Jalan masuk ini butuh panjang antara 150 meter hingga 170 meter di ujung barat dan timur underpass,” jelasnya.

Survei rencana pembangunan underpass terpanjang di Jawa. (sri widodo/koranbernas.id)

Menurut Heri Anggaradi, pendataan belum dapat dijadikan patokan pembebasan tanah warga untuk pelebaran kebutuhan outlet dan inlet.

Lebar jalan sekarang 7,5 meter. Dan bukan berarti semua tepi jalan akan terkena dengan lebar yang sama.

Baca Juga :  Senam Haji Bermanfaat Jaga Kebugaran

“Jalan diskenario untuk kecepatan lalu lintas 60 km hingga 80 km per jam. Di sini tidak mungkin ada tikungan tajam. Maka kebutuhan pelebaran sesuai dengan lengkung tikungan yang tidak tajam tersebut,”  ujarnya.

Kades Glagah Agus Parmono menjelaskan program ini sudah disosialisasikan ke masyarakat. Semua warga menerima program ini.

Sujiyem warga Glagah yang bakal terkena pelebaran jalan mengaku tidak keberatan. “Ya rela saja,  yang penting ada ganti rugi yang layak,” katanya.

Menurut Heri besaran ganti rugi ditentukan oleh appraisal independen. (sol)