Unik, Peramu Kopi Ini Selalu Bertelanjang Dada

297

KORANBERNAS.ID — Gegap gempita warung kopi melanda di mana-mana. Begitu pula di Pontianak Kalimantan. Dari puluhan  kedai kopi, satu di antaranya sangat unik sehingga menjadi ikon kota tersebut.

Namanya kedai kopi Ashiang di Jalan Merapi. Bukan hanya kedai kopi itu mulai buka pukul 04:00 dinihari dan pembeli sudah mulai berdatangan, lebih unik lagi si peramu kopi selalu berpenampilan tanpa baju. Istilah Yogyakarta, mblegendhong.

Ada tatto di tubuhnya. Tidak risih melihatnya? Ternyata justru karena keunikan itu banyak yang tertarik, sebab penampilannya nyeleneh dan tidak biasa.

Menurut Kapolres Sanggau AKBP Oki Waskito SH SIK MSi yang lama bertugas di Polda Kalimantan Barat dan markasnya di Pontianak, suasana kedai kopi memang menyenangkan.

Di sana, banyak komunitas saling bertemu, ngobrol bahkan diskusi dengan topik serius.  Bahkan menurut alumnus SMA Negeri Tirtonirmolo Kasihan Bantul yang kemudian lulus AKPOL 1996 ini, banyak pejabat sering menikmati kopi di sana.

“Termasuk kalau ada pejabat dari luar Kalbar datang ke Pontianak, kebanyakan ingin minum kopi di kedai Ashiang.  Karena sudah semacam ikon di Pontianak,” kata Oki.

Tidak jual wifi

Dengan bertelanjang dada itu, tangannya begitu terampil meramu kopi dan siap dihidangkan kepada pelanggan yang sudah berdatangan sejak dinihari. Di kedai yang berdiri sejak 1958 itu tidak disediakan Wifi. Jadi benar-benar menjual nikmatnya kopi.

Baca Juga :  Dua Remaja Asal Kotagede Hanyut Terseret Ombak Pantai Selatan

Berbeda misalnya kedai kopi Aming di Jalan Haji Abbas Pontianak, yang juga sangat  laris.  Aming banyak digunakan untuk kongkow mereka yang memanfaatkan fasilitas Wifi yang disediakan. Mereka asyik dengan laptopnya, sampai berjam-jam.

Di Ashiang, sebagian pengunjung kedai kopi selain masyarakat berbagai lapisan usia,  banyak pula pejabat yang ingin menjaring informasi dari masyarakat, maupun para pedagang yang punya kepentingan untuk usahanya.

Kedai kopi Ashiang pukul 07:30, pengunjung meluber. (arie giyarto/koranbernas.id)

Boleh dikatakan, perbincangan di Ashiang sudah hitungan miliar, sedangkan di kedai lain masih dalam hitungan ratusan juta. Bahkan di kedai yang lebih kecil, mungkin hitungannya masih di bawahnya.

Kedai kopi Ashiang awalnya hanya menempati sebuah ruko. Kemudian tambah ruko sebelahnya dan meluber ke teras. Bahkan sekarang peminum kopi Ashiang numpang tempat di kedai bubur seberang jalan.

Menurut Oki,  pada dasarnya dari sisi cita rasa kopi hampir sama. Tapi ada kedai kopi yang punya ciri khasnya sendiri. Di Aming, dalam gelas kopi yang dihidangkan, dimasukkan beberapa biji kopi.

Mungkin untuk menambah aroma. Tetapi yang tidak tahu, baru berkunjung sekali ke kedai itu,  biji kopi itu ada yang diklethus.

Tentang keaslian biji kopi, dibuktikan dengan adanya penggilingan biji kopi di tempat. Pengunjung pun bisa membeli kopi giling untuk diseduh di rumah.

Baca Juga :  Berkat Pohon Ini Air Sendang Tetap Lestari

Harganya bervariasi. Di Ashiang  bisa diperoleh Rp 20.000 per seperempat kilogramnya. Sedang di Aming sedikit lebih mahal. Bagi pendatang dari luar kota, bubuk kopi menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas dari Pontianak.

Makanan khas daerah itu adalah lidah buaya, lempok durian atau bingke. Hanya saja kopi lebih praktis, karena lidah buaya kemasannya berair. Sedang bingke tidak tahan lama dan hari itu juga seyogianya dinikmati.

Meski banyak yang tidak terusik dengan penampilan Ashiang bertelanjang dada, ada juga yang sebaliknya. “Saya jengah melihat orang tanpa baju meranu kopi untuk pelanggan,” kata Sekar, seorang pembeli di kedai Ashiang.

Demikian juga Ririen, istri seorang karyawan di salah satu instansi di lingkungan Kementerian Keuangan. “Nggak tahu ya. Meski agak risih juga lihat peramu kopi tanpa baju, terutama kalau betkeringat. Tetapi saya sangat menikmati kopi ramuannya,” kata Ririen kepada koranbernas.id di Pontianak Selasa (07/11/2017) malam.

Selain minum di tempat, dia juga memborong kopi giling untuk oleh-oleh. Bagaimana dengan Anda setelah membayangkannya? (sol)