UNU Gelar Syawalan Sambil Diskusi

Bahas Dilema Suku Bunga Bank Indonesia

106
Syawalan Program Studi Akuntansi UNU Yogyakarta, Senin (25/06/2018), di Rumah Limasan UNU Yogyakarta. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Program Studi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta menggelar syawalan 1439 Hijriyah, Senin (25/06/2018), di Rumah Limasan UNU Yogyakarta.

Acara tersebut dibarengi diskusi internal bertajuk Dilema Suka Bunga Bank Indonesia, dibimbing oleh pengamat Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Bambang Arianto.

Ddiskusi ini berawal dari kegelisahan atas kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat The Fed yang mulai direspons cepat oleh pemerintah dan otoritas moneter dalam negeri.

Dalam sisi moneter, Bank Indonesia (BI) telah mengambil sikap menaikkan suku bunga acuan. Bahkan dalam satu bulan, BI menaikkan suku bunga acuan sebanyak dua kali.

Kenaikan suku bunga acuan 7Days Reverse Repo Rate (7 DRRR) sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen dilakukan pada 17 Mei silam. “Kemudian disusul kenaikan kedua, sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen dilakukan Rabu (30/05/2018),” jelas Anik Puji Handayani, Kepala Program Studi Akuntansi UNU Yogyakarta.

Akan tetapi, kata dia, dampak pertama yang akan terasa dari kenaikan suku bunga acuan yakni biaya dana bank akan meningkat termasuk suku bunga pinjaman (kredit) juga meningkat.

Baca Juga :  Dua Orang Meninggal, Ratusan Rumah Rusak Akibat Gempa Bumi

Menurut dia, industri perbankan dan industri pasar modal juga akan terkena imbas. Hal ini karena kenaikan tingkat suku bunga berdampak pada turunnya net interest margin perbankan dan pada akhirnya akan menyebabkan pertumbuhan kredit di 2018 akan susah mencapai 9-10 persen.

“Ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi untuk mencapai di atas 5,2 persen. Depresiasi rupiah jika berlebihan pada 2018 akan memperburuk neraca perdagangan. Ekspor juga akan turun sehingga PDB akan tertekan,” terangnya.

Pengamat Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Bambang Arianto, menambahkan industri ekspor Indonesia sangat tergantung pada impor bahan baku dan barang modal. Bahkan impor 90 persen  terdiri atas bahan baku dan barang modal. Ketika impor turun, karena depresiasi rupiah, maka ekspor juga akan turun.

Dampak lainnya, pada pasar saham bisa memicu biaya pinjaman yang lebih tinggi. Hal itu disebabkan para investor asing di pasar modal akan keluar untuk memperoleh yield yang meningkat di Amerika Serikat, sehingga dapat memicu investor asing akan keluar dan rupiah kembali tertekan.

Baca Juga :  Bupati Ajak Warga Kristiani Ciptakan Suasana Aman

Oleh sebab itu, langkah Bank Indonesia melakukan kenaikan suku bunga untuk mengatasi dilema ini sudah tepat. Terutama sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi dari gejolak eksternal.

Agar dampak kenaikan suku bunga tersebut terhadap perlambatan ekonomi bisa diminimalisir, pemerintah harus aktif mengeluarkan paket kebijakan terutama bagi perbankan agar dapat melakukan upaya efisiensi biaya, fokus pada dana murah alias current account and saving account (CASA) serta menjaga kualitas kredit.

Selain itu, pemerintah harus tetap melakukan kebijakan yang pre-emptive untuk menangkal efek negatif dari tren kenaikan bunga AS, yang akhirnya menular pada pengetatan moneter global.

“Kita masih sangat mengandalkan investor global untuk pembiayaan defisit anggaran. Tidak lupa, tetap diperlukan kebijakan jangka pendek dari sisi moneter seperti memberikan pelonggaran kebijakan makro-prudensial. Sekaligus kebijakan jangka menengah dan panjang seperti mendorong kegiatan ekspor melalui produk manufaktur dan pariwisata. Dengan demikian, kenaikan BI rate bisa menjadi angin segar bagi upaya mempertahankan citra ekonomi Indonesia di mata investor,” kata Bambang Arianto. (sol)