Uskup Agung Semarang: Kami Berterima Kasih Kepada Buya Syafi’i Maarif

264
Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko (kiri) bertandang ke rumah Buya Syafi'i Maarif (kanan), Senin sore (19/2/18) dalam rangka menyampaikan terima kasih. (Foto: Putut Wiryawan/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr, Senin sore (19/2/18) pukul 16.35 bersilaturahmi ke rumah Buya Ahmad Syafi’i Maarif di Jl. Halmahera D-76, Perumahan Nogotirto 3, Gamping, Sleman. Uskup Agung didampingi romo Paroki Gereja Hati Perawan Maria Tak Bercela, Kumetiran, Yogyakarta, Rm. Dwi Harsanto, Pr. dan Rm. Sumantoro, Pr. Kedatangan rombongan diterima Buya Syafi’i Maarif yang sudah siap di teras rumah.

Kepada wartawan, Uskup Agung mengatakan, kedatangannya ke kediaman Buya Syafi’i untuk menyampaikan rasa terima kasih yang besar, karena peran Buya Syafií yang ikut menyebarluaskan rasa kedamaian di kalangan masyarakat luas. Peran Buya Syafií besar sekali dalam rangka memperkokoh persatuan dan kebersamaan di kalangan para umat beragama. “Dengan apa yang dilakukan Buya Syafi’i, masyarakat menjadi tenang, tidak terprovokasi dan malah terbangun rasa persaudaraan yang tinggi. Itu tujuan kami datang kemari. Untuk menyampaikan terima kasih,” kata Mgr. Robertus Rubiyatmoko, sebelum dipersilakan masuk ke ruang tamu.

Baca Juga :  Indahnya Toleransi, Pemuda Lintas Agama Baca Kitab Suci

Uskup Agung berpendapat, Buya Syafi’i adalah guru kebersamaan. Tokoh seperti Buya Syafi’i sangat diperlukan oleh bangsa ini di dalam rangka membangun kebersamaan, persaudaraan antarumat beragama. Kedatangan Buya Syafi’i ke Gereja Bedog, adalah langkah konkret untuk mewujudkan persaudaraan dan membantu menghilangkan rasa kebencian dan dendam.

Memperparah Kerusakan

Menjawab pertanyaan wartawan sebelum rombongan Uskup Agung Semarang datang, Syafi’i Maarif menyatakan, rentetan peristiwa kekerasan terhadap sejumlah pemuka agama, baik di Banten, Jawa Barat, DIY dan Jawa Timur, menunjukkan kondisi bangsa ini semakin parah. Kondisi moral bangsa Indonesia sudah rusak. Kekerasan yang menimpa sejumlah pemuka agama, sifatnya hanya memperparah kerusakan moral bangsa tadi.

Ia menjelaskan, bangsa ini sebenarnya sedang berusaha untuk bangkit kembali dari keterpurukan; tetapi yang terjadi justru semakin parah. Apalagi, sekarang ini tidak ada keteladanan dari para politisi. Hampir tidak ada politisi yang punya sikap negarawan.

Baca Juga :  Jadi Terdakwa Korupsi, Oknum PNS Masih Berkantor

Salah satu persoalan besar bangsa ini adalah ketimpangan ekonomi dan sosial yang sangat tinggi dan melahirkan kemiskinan. Para politisi yang ada sekarang tidak berhasil membuat perubahan agar ketimpangan tadi semakin mengecil. Nafsu kekuasaan yang besar menyebabkan mereka hanya berpikir untuk diri sendiri.

Dampak dari kemiskinan tadi, salah satunya melahirkan sosok seperti Suliyono yang kemudian bertindak di luar batas kemanusiaan. “Saya menduga, dia dari kelompok yang kita belum tahu. Kepada saya Suliyono mengaku tidak membenci polisi. Padahal, teroris-teroris yang menebar ketakutan itu biasanya membenci polisi yang mengejar-ngejar teroris. Ini ndak. Dia tidak benci polisi,” kata Buya sambil menambahkan polisi harus mampu mengungkap, siapa sebenarnya Suliyono. Siapa pula dalangnya. Agar semua menjadi jelas. (iry)