Uskup Agung Semarang: Masyarakat Indonesia masih Menghendaki Kerukunan

585
Meskipun misa sudah berlangsung, umat terus berdatangan, sehingga Panitia harus mencari tambahan kursi. (Foto: Putut Wiryawan/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Sekitar 2.000 umat Katholik dari berbagai daerah, Senin petang (19/2/18) mengikuti misa konselebrasi di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Sleman. Sekalipun misa baru berlangsung sekitar pukul 18.00, tetapi umat sudah mulai berdatangan dua setengah jam sebelumnya. Jalan Jambon yang melintas di depan gereja ditutup dari dua arah, baik dari arah Jalan Kabupaten maupun dari arah Jalan Siliwangi (Jl. Ringroad Barat). Kendaraan roda empat milik umat, disediakan kantong parkir di beberapa tempat, antara lain di lapangan belakang Kantor Balaidesa Trihanggo. Umat kemudian diantar jemput Panitia menggunakan kendaraan kecil-kecil.

Ketika misa mulai berlangsung sekitar pukul 18.00, umat yang hadir baru mencapai sekitar 1000 orang. Namun, umat terus berdatangan, sehingga panitia harus mencarikan kursi-kursi tambahan untuk mereka. Itu pun belum mencukupi, sehingga tidak sedikit umat yang mengikuti misa harus duduk lesehan di banyak tempat.
Ikut tampil memeriahkan suasana, kelompok kerawitan para frater dari Seminari Kentungan, Sleman.

Baca Juga :  Ini Cara Pemda DIY Antisipasi Joki CPNS
Para frater dari Seminari Kentungan, menyemarakkan suasana dengan menabuh gamelan. (Foto: Putut Wiryawan/koranbernas.id)

Misa konselebrasi itu dipimpin Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr. Ia didampingi 25 romo selebrator atau ikut mendampingi Uskup Agung. Termasuk menjadi salah satu romo selebrator adalah Romo Karl Edmund Prier, SJ yang menjadi korban kebrutalan Suliyono ketika sedang memimpin misa Minggu (11/2/18) di Gereja Santa Lidwina.

Uskup Terkagum-kagum

Uskup Mgr. Robertus Rubiyatmoko di depan umat, menyampaikan kekagumannya kepada para korban yang tidak terbersit rasa takut, benci dan dendam dari mereka. Hari Minggu ketika Gereja Bedog diserang, tutur Uskup Agung, ia kebetulan sedang berada di Yogyakarta. Mendengar peristiwa itu, ia segera datang ke rumah sakit untuk menjumpai para korban. Pertama kali yang ia jenguk adalah Romo Prier.
“Saya terkagum-kagum ketika bertemu Romo Prier di ruang ICU. Beliau malah tersenyum. Tidak ada rasa marah. Tidak ada rasa benci. Tidak ada rasa takut. Ini luar biasa,” kata Uskup Agung.
Hal yang sama, juga ia rasakan ketika menengok Budijono dan Tri yang terluka paling parah.

Baca Juga :  Manasik Haji Dewasakan Iman

Menurut Uskup Agung, peristiwa penyerangan Gereja Bedog 11 Februari lalu, memberikan pelajaran sangat berharga. Ketidak-adaan rasa takut, adalah bukti penyertaan Tuhan kepada umatnya yang percaya. Selain itu, buah dari peristiwa itu juga ada yang pantas disyukuri, yakni tumbuhnya buah kebersamaan, buah kerukunan dan buah persatuan.

Akhir dari peristiwa itu membuktikan, bahwa masyarakat Indonesia masih menghendaki persatuan, kerukunan dan kebersamaan. Setelah peristiwa terjadi, banyak dukungan, empati dari masyarakat luas, termasuk umat dari agama lain.

Kepada umat Katholik, Uskup Agung berpesan untuk tidak mengembangkan rasa curiga. Sebaliknya, umat Katholik harus mengembangkan kasih kepada sesama. Umat juga harus bangkit dan meninggalkan rasa takut. (iry)