Utami Wulandari 15 Tahun Jadi Ketua RW

Berharap Ngarsa Dalem Sultan HB X “Rawuh” ke Kampung KB

240
Ketua Kampung KB Prawirodirjan Yogyakarta Utami Wulandari. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Tidak banyak wanita bersedia bekerja di ranah sosial menjadi Ketua RT atau Ketua RW. Tanggung jawabnya berat dan nyaris tanpa kompensasi.

Tetapi tetap ada. Salah satunya adalah Utami Wulandari. Sarjana Filsafat Sosiologi Pendidikan lulusan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta kelahiran 10 Februari 1962 ini bahkan tiga kali periode menjadi Ketua RW 12 Kelurahan Prawirodirjan  Kecamatan Gondomanan Kota Yogyakarta. Artinya 15 tahun dia menjalaninya.

Sebagaimana ketua-ketua RW yang lain, Utami pun kadang-kadang harus rapat sampai hampir tengah malam. Menyambangi Pos Kamling untuk menyapa peronda sekaligus mengontrol keamanan dan sebagainya.

“Bahkan pernah menengahi keluarga berkelahi. Ya dengan bahasa ibu, ternyata semua berakhir damai,” kata Utami saat ditemui koranbernas.id di rumahnya, Prawirodirjan  GM II Nomor 966 RT 40.

Tidak takut? Ibu tiga anak itu tersenyum sambil menggeleng. Semua diawali dengan hobi berorganisasi sejak masih remaja. Setelah menikah, dalam perjalananannya, suaminya,  Bambang Wijanarko SE (sekarang purnakarya UGM) juga beberapa periode menjadi Ketua RT. Jadilah dia dibesarkan dalam organisasi sebagai Ketua PKK.

Bahkan sejak Presiden Jokowi mencanangkan Kampung KB pada 2 Februari 2016 dan DIY mengawali dengan lima Kampung KB di semua kabupaten/kota, Utami dipercaya menjadi ketua Kampung KB di Kota Yogya, tepatnya di RW 12 Kelurahan Prawirodirjan.

“Tidak ringan tanggung jawabnya. Karena harus membenahi banyak hal yang masih kurang dan terbelakang. Alhamdulillah kami memperoleh dukungan penuh dari masyarakat dan forum pimpinan tingkat kecamatan,” ujarnya bersyukur.

Mural berisi pesan hindari pernikahan dini. (arie giyarto/koranbernas.id)

Bersama seluruh warga, dia tidak berat melaksanakan tugas untuk membenahi kampung dari sisi pencapaian kesertaan KB, kependudukan, lingkungan dan hunian yang nyaman, kampung hijau ramah lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan warga melalui Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS).

Baca Juga :  Dua Desa Ini Bakal Miliki Spot Wisata Baru

Bahkan berbagai kegiatan dengan dana swadaya pun, warga ikhlas, termasuk mendirikan Rumah Data. Ini karena mereka memiliki kesadaran semua itu untuk kepentingan bersama.

Ketika sore itu koranbernas.id datang ke Prawirodirjan, gerimis baru saja mengguyur. Suasananya sejuk. Gang masuk dari seberang pintu makam Sasanalaya, begitu bersih dengan deretan rumah-rumah yang rapi.

Dinding panjang dihiasi dengan mural. Berisi pesan-pesan kependudukan. Ajakan warga untuk mendukung keluarga kecil dengan Dua Anak Cukup.

Pesan lainnya mengenai pernikahan dini karena akan kehilangan prestasi dan masa depan, mengisi kegiatan masa muda untuk membangun masa depan dan banyak lagi.

Warna-warnanya cerah. Visualnya menarik. “Itu yang menggambar memang lulusan SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) Yogyakarta. Dan catnya memang kualitas bagus,” kata Utami.

Mural untuk mencegah seks pranikah. (arie giyarto/koranbernas.id)

Tidak semua mural menggunakan cat kualitas prima. Itu pun dananya dari sponsor warga dan pengusaha setempat. Jadilah dinding itu sangat menarik. Lebih dari itu, pesan tersebut diharapkan bisa diserap warga dan siapa pun yang melintas di sana.

Dengan berbagai program, Kampung KB Prawirodirjan mencatat banyak kemajuan. Dari 82 Pasangan Usia Subur (PUS) awalnya belum semua mengikuti program KB dengan alat kontrasepsi (alkon) modern. Masih banyak yang menggunakan alkon tradisional.

Di kampung berpenduduk 173 KK dengan 552 jiwa itu, kini sebagian besar  PUS-nya sudah terlindung dari kehamilan. Selain menggunakan IUD, implant, suntik, pil dan kondom, ada juga satu akseptor Medis Operatif Pria dan 4 Medis Operatif Wanita.

Baca Juga :  Presiden Bagikan Bingkisan Saat Meninjau Proyek Irigasi di Berbah

Di bidang UPPKS pun banyak yang bisa dicatat. Bahkan di UPPKS Boga Kencana, anggota siap menerima pesanan aneka snack dan makan. Berbagai pelatihan  di bidang kuliner aktif dilakukan.

Ketika koranbenas.id ke sana, UPPKS baru saja belanja peralatan untuk pelatihan membuat shupa soup yang sedang trend dan pesanannya meningkat

Snack untuk keperluan rapat-rapat sampai tingkat kelurahan bahkan kecamatan banyak dipesan dari  sana. Ini merupakan salah satu bentuk kerja sama saling menguatkan dan saling menghidupi.

Meski sibuk dengan berbagai kegiatan, namun  Utami mengaku tidak melupakan tugasnya sebagai ibu. Keperluan makan dan perhatian bagi anak-anaknya tidak diabaikan.

Mural Kampung KB Prawirodirjan Yogyakarta. (arie giyarto/koranbernas.id)

Anaknya yang sulung lulus UGM, yang kedua SMA dan bungsu SMP. Mereka tidak pernah protes pada ibunya. Semua dilakukan Utami bersama suaminya demi.masa depan anak-anaknya.

Sampai kapan Utami akan mengabdikan diri kepada masyarakat? Meskipun dia menyatakan benar sebagai ujung tombak dirinya pun kadang jadi “ujung  tombok” baik waktu, tenaga, pikiran bahkan uang.

Prinsipnya dia ingin mengabdi sampai batas dia mampu. Lalu apa obsesinya?  Sebagaimana diungkapkan ketika dia menjadi narasumber pada Program Review KKBPK DIY semester 1 tahun 2018, Masyarakat Kampung KB Prawirodirjan merasa iri, dalam tanda kutip.

Empat Kampung KB kabupaten/kota sudah diberi semangat oleh Gubernur DIY dengan meninjau ke sana. “Kami pun mengharapkan bapak Gubernur DIY Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono  X berkenan rawuh ke sini,” katanya penuh harap. Akankah harapan itu jadi kenyataan? (sol)