Vonis Mati Hakim Disambut Sholawat Badar

411
Terpidana Amin Subchi tertunduk lesu di persidangan. (prasetiyo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Amin Subechi (26), warga Desa Pengadegan, Kecamatan Pengadegan, Purbalingga yang membunuh nenek Eti Sularti (70) dan cucunya, Hanani Sulma Mardiyah di Kelurahan Kalikabong, Kecamatan Kalimanah, Purbalingga pada pertengahan Januari 2017 silam, akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Purbalingga dalam sidang di PN setempat, Senin (09/10/2017).

Vonis itu sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Atas vonis tersebut, terdakwa bersama penasehat hukumnya, Imbar Sumisno SH dari LBH Perisai Kebenaran menyatakan banding.

“Menyatakan terdakwa Amin Subechi secara sah dan meyakinkan bersalah dan memutuskan hukuman mati,” tutur Ketua Majelis Hakim Ageng Priambodo SH.

AMP DESAK terpidana dihukum mati (prasetiyo/koranbernas.id)

Atas putusan itu, ratusan warga yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Purbalingga (AMP) membentangkan sejumlah spanduk bertuliskan “Warga Kalikabong Menuntut Terdakwa Dihukum Mati” dan “Menuntut Keadilan Untuk Hanani dan Mbah Eti”.

Mereka sejak pagi berorasi menuntut majelis hakim menghukum mati terdakwa. Tak heran ketika vonis mati dijatuhkan majelis hakim, mereka langsung meluapkan kegembiraannya dengan melantunkan salawat badar. Tidak sedikit yang berpelukan sambil meneteskan air mata.

“Hutang nyawa harus dibayar nyawa. Kami puas atas putusan majelis hakim,” ujar beberapa warga Kelurahan Kalikabong, Kecamatan Kalimanah, yang juga tetangga dan kerabat korban kepada koranbernas.id.

Dalam amar putusannya, majelis hakim sependapat dengan dakwaan JPU yang menyebutkan terdakwa melakukan pembunuhan berencana dan melanggar pasal 340 KUHP. Perbuatan terdakwa tergolong sadis. Perbuatan terdakwa mengakibatkan penderitaan yang mendalam bagi keluarga korban dan meresahkan masyarakat. Majelis juga tidak melihat unsur yang meringankan.

Baca Juga :  Ada Makan Gratis di Stasiun Purwokerto

Sesaat setelah membacakan vonis, Ketua Majelis Hakim Ageng Priambodo memberikan kesempatan kepada terdakwa berkonsultasi dengan Penasehat Hukum Imbar Sumisno.

Terdakwa dan penasehat hukum seketika menyampaikan akan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT). Sedangkan JPU David Simorangkir SH dan Nurochman Adi Kusumo SH MH yang diberi kesempatan menyampaikan pendapatnya menyebutkan pihaknya akan pikir-pikir mensikapi banding terdakwa.

Kasus pembunuhan yang menggegerkan warga Purbalingga itu, terjadi, Rabu (11/01/2017) silam.

Hanani Sulma Mardiyah (23) dan neneknya Eti Sularti (70) ditemukan tewas dengan luka gorok di leher mereka siang itu. Selang sehari, petugas Satuan Reskrim Polres Purbalingga menangkap Amin Subechi tersangka pelaku yang kabur dan bersembuny di Bogor.

Dari pemeriksaan terungkap motif pembunuhan itu berlatarbelakang asmara. Korban Hanani memutuskan hubungan mereka. Amin berusaha mendekati dan merayu korban agar nyambung kembali, namun ditolak.

Penolakan Hanani, kemudian berujung pada pembunuhan gadis yang baru saja lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan neneknya.

Grasi Saridi Ditolak

Berdasarkan catatan koranbernas.id, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Purbalingga sebelumnya juga pernah menjatuhkan humuman mati terhadap Saridi, warga Desa Karangtengah kecamatan Kemangkon Purbalingga.

Baca Juga :   GTT-PTT Cilacap Kecewa, Mulang Serius Gaji Seharga Es Jus

Melalui proses persidangan, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Purbalingga yang dipimpin Achmad Sukandar SH dengan anggota Tulus Basuki SH dan Bagus Irawan SH menjatuhkan hukuman mati terhadap Saridi pada persidangan di tahun 2002, atau 15 tahun silam.

Vonis itu sama seperti tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kasmin SH.

Dalam dakwaannya, JPU Kasmin SH menuduh Saridi pada 31 Januari 2002 sekitar pukul 01.00 membunuh pasangan Khotiyu dan Ny Poniyah, yang juga tetangganya sendiri. Motif pembunuhan itu dilatari utang piutang. Kedua korban tidak kunjung melunasi utangnya sebesar Rp 3 juta kepada Saridi.

Usai membunuh, Saridi sempat kabur ke Jakarta. Dalam hitungan hari, petugas dari Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Purbalingga berhasil meringkusnya di Jakarta.

Dalam persidangan di PN Purbalingga, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kasmin SH menjeratnya dengan pasal berlapis. Yakni dakwaan primer pasal 340 KHUP juncto pasal 65 ayat 1, dakwaan subsidair 338 KUHP juncto pasal 65 ayat 1, dan dakwaan lebih subsidair pasal 351 KUHP juncto pasal 65 ayat 1.

Belakangan, diketahui grasi yang diajukan penasehat hukum Saridi, ditolak Presiden Joko Widodo. Melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 30/G Tahun 2015, Presiden Joko Widodo menolak permohonan grasi Saridi yang dimohonkan oleh kuasa hukumnya, Budi Wiyono SH, pada 2002 silam. (SM)