Wah Angka Gangguan Jiwa di Kebumen Tertinggi

286
Workshop “Dampak Kependudukan Terhadap Kemiskinan dan Gangguan jiwa“ di Rabu (29/11/2017).(nanang wh/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Kabupaten Kebumen ternyata tidak hanya tertinggi jumlah penduduk miskin di Jateng. Kasus gangguan jiwa di Kebumen juga masuk tiga besar tertinggi di Jawa Tengah. Kemiskinan menjadi masalah yang menyulitkan penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ)di Kebumen. Baru 60 persen pengidap gangguan jiwa yang tertangani.

Masalah itu diungkapkan Kepala Dinas Sosial Pengendalian Penduduk Perlindungan Ibu dan Anak Keluarga Berencana Kebumen dr HA Dwi Budi Satrio MKes, pada workshop “Dampak Kependudukan Terhadap Kemiskinan dan Gangguan jiwa“, Rabu (29/11/2017). Workshop yang diikuti camat dan dinas dinas di Kabupaten Kebumen, juga menghadirkan narasumber Ketua Koalisi Kependudukan Jateng Prof Dr Saratri Wilonoyudo.

Tanpa menyebut angka kasus ODGJ di Kebumen, Budi Satrio menyebutkan, penyebab gangguan jiwa di Kebumen lebih banyak dipicu masalah kemiskinan pada keluarga ODJG. Kemiskinan kultural dan struktural itu lebih banyak disebabkan rendahnya rata rata lama sekolah penduduk Kebumen.

Baca Juga :  Sajian Blekutak Goreng Terbanyak Masuk Rekor MURI

“Berdasarkan data statistik rata rata sekolah penduduk hanya 6,7 tahun, sebagian besar lulus SD. Dengan pendidikan SD pekerjaan yang diperoleh jadi buruh tani, atau buruh lain,“ kata Budi Satrio.

Pemberian bantuan sosial yang telah berjalan selama ini tidak menjadikan masalah kemiskinan di Kebumen teratasi. Masyarakat miskin butuh pemberdayaan ekonomi.

Potensi ekonomi yang ada di Kebumen bisa dijadikan modal pemberdayaan warga miskin meningkatkan pendapatanya. Dengan demikian mereka menjadi pelaku usaha kecil mikro.

Saratri mengatakan, Kebumen punya potensi sumber daya alam yang bisa dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Seperti potensi wisata dan kuliner. Kedua jenis potensi itu, jika bisa dimanfaatkan optimal, masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah bisa meningkat kesejahteraanya. Beberapa desa menjadi desa wisata, dengan rata-rata pendidikan tidak tinggi, ternyata ekonominya bisa maju, dengan kreatifitas wisata dan kulinernya. (yve)

Baca Juga :  Warga Keluhkan Kenaikan Tarif Pajak Disertai Denda