Warga Dua Desa Protes Usaha Pembuatan Arang

485
Lokasi pembuatan arang tempurung milik Sumardi di pinggir sungai Desa Rejoso yang diprotes warga Desa Bakung dan Desa Ngering karena polusi asap. (masal gurusinga/koranbernas.id)

KORAN BERNAS.ID — Puluhan warga di Dukuh Dukuman Desa Bakung dan Dukuh Rogobayan Desa Ngering Kecamatan Jogonalan Klaten memprotes usaha pembuatan arang dari tempurung kelapa milik Sumardi di Desa Rejoso Kecamatan Jogonalan. Warga memprotes usaha itu karena polusi asap yang mengganggu kesehatan.

Protes atas usaha itu disampaikan warga secara tertulis kepada Bupati Klaten melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Seluruh warga yang terdampak polusi juga membubuhkan tanda tangan pada surat tertanggal 26 Desember 2017 itu.

Agus, warga Rogpbayan Desa Ngering mengatakan polusi asap dari pembakaran tempurung itu sangat mengganggu kesehatan dirinya dan keluarganya. Terutama jika angin berhembus ke arah perkampungan penduduk.

“Kalau pas lagi bakar, asapnya hitam pekat. Padahal lokasi pembakaran dekat dengan perkampungan warga,” katanya, Rabu (14/03/2018).

Menurut dia, usaha arang dari tempurung itu berlokasi di pinggir kali dan dicurigai belum memiliki izin. Dia dan warga meminta usaha itu ditertibkan agar tidak mengganggu warga.

Kepala Dusun I Desa Rejoso, Wardoyo, menyatakan benar adanya keluhan warga atas usaha pembuatan arang tempurung. Pemerintah Desa Rejoso juga menerima surat dari warga Bakung dan Ngering.

Menanggapi keluhan warganya, Wardoyo yang ditemui di Kantor Kades Rejoso mengaku telah menindaklanjuti dan mengingatkan pemiliknya.

Di tempat terpisah, Sumardi, pemilik usaha arang tempurung saat dikonfirmasi mengaku siap menindaklanjuti dengan memindahkan usahanya ke lokasi lain.

“Saya tidak membangkang. Saya siap pindah ke sawah tentunya setelah panen sekitar tiga bulan lagi. Mohon kebijaksanaannya dan  beri saya waktu sampai panen. Setelah itu saya akan memindahkan lokasi usaha,” ujarnya. (sol)