Warga Dusun Produksi Pembalut Bebas Klorin

236

KORANBERNAS.ID — Sekelompok warga Dusun Dermonganti Kecamatan Gemawang Kabupaten Temanggung memproduksi pembalut berbahan kain agar mengurangi penggunaan pembalut yang mengandung klorin.

Pembalut merupakan salah satu benda yang wajib dipakai oleh perempuan pada setiap siklus haid tiba. Penggunaannya mudah, gampang diperoleh dan membuat aktivitas tetap nyaman selama haid.

Akan tetapi banyak beredar kabar bahaya penggunaan pembalut perempuan karena adanya kandungan klorin, zat yang bersifat racun. Jika kandungan klorin semakin tinggi akan berbahaya terhadap kesehatan bagi penggunanya.

Klorin sangat berbahaya bagi kesehatan reproduksi perempuan. Selain keputihan, gatal-gatal dan iritasi, klorin juga dapat menyebabkan kanker, karena di dalamnya mengandung dioksin yang bersifat karsinogenik dan merupakan pemicu risiko terkena kanker serviks, salah satunya dipicu oleh zat-zat dalam pembalut.

Untuk itu, sebagian warga di Dusun Dermonganti Kecamatan Gemawang Kabupaten Temanggung tergerak menciptakan solusi bagi warganya serta mencari peluang penghasilan tambahan bagi kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR) “Raden”.

Ketua BKR Raden, Tanti, ketika ditemui Rabu (18/04/2018) mengatakan, kelompok BKR Raden Dusun Dermonganti merasa tergugah untuk membuat pembalut seperti pada era terdahulu, yang menggunakan kain sebagai bahan pembalutnya.

Ide tersebut berawal dari upaya mengurangi sampah yang susah terurai, serta dapat mengurangi pemakaian pembalut yang mengandung klorin.

Akhirnya kelompok  kami memproduksi pembalut berbahan kain wol dengan lapisan anti-tembus yang tahan pemakaiannya hingga 18 bulan, jika dipakai untuk perempuan yang sedang datang haid.

Produksinya masih dilakukan manual (handmade). Proses pemotongan maupun menjahit belum menggunakan mesin untuk produksi dengan skala besar. Akan tetapi dengan proses manual tersebut desain dan kerapiannya tidak kalah dengan hasil produksi di pabrik.

Akan tetapi hasil produksi pembalut kain tersebut hanya dipasarkan di lingkungan sekitar dusun dengan harga satuannya Rp 13.000 untuk ukuran kecil, sedangkan ukuran besar Rp 13.500.

“Hasil penjualan dimasukkan untuk uang kas kelompok, agar dapat lebih mengembangkan peluang pembuatan pembalut berbahan kain,” ujarnya.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA), Masruchi, sangat mengapresiasi ide pembuatan pembalut berbahan kain tersebut.

Masyarakat mampu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan keluarganya. Semoga proses produksi dan pemasarannya dapat berkembang dan menjadi sumber tambahan penghasilan lainnya.

Dia menyarankan desain pembalut kain dan kemasannya ditingkatkan sehingga konsumen lebih tertarik menggunakan produk tersebut. (sol)