Warga Minta Lokasi AMP Dipindahkan

135
Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Bantul (GMPB) Ratno Suyadi memberikan keterangan kepada wartawan di  RM Joglo Pajangan, Senin (28/05/2018) malam. (Sari Wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Keinginan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul untuk menghidupkan kembali pabrik Aspal Mixing Plant (AMP) yang telah mangkrak dua tahun di Dusun Bungsing, Desa Guwosari, Pajangan Bantul nampaknya tidak akan mulus.

Niat Pemkab Bantul menggandeng investor asal Klaten tersebut mendapat tentangan dari Gerakan Masyarakat Peduli Bantul (GMPB).

“Harusnya Pemkab Bantul lebih mengutamakan investor dari lokal untuk menggarap AMP sehingag lebih memberdayakan potensi ekonomi lokal,”kata Ketua GMPB Ratno Suyadi  dalam pernyataan pers sekaligus peluncuran GMPB di RM Joglo Pajangan, Senin (28/05/2018) malam.

Selain itu lokasi AMP yang sangat dekat dengan pemukiman termasuk MIN dan juga Pondok Pesantren, menurut Ratno berpotensi mengganggu.

“Karena disana akan ada polusi. Selain bising, juga debu dan asap. Mohon keinginan untuk mengoperasikan AMP di lokasi Bungsing bisa ditinjau ulang demi ketentraman masyarakat,”katanya.

Sebisa mungkin Ratno meminta agar lokasi pengoperasian MP bisa ditinjau ulang dan bisa dipindah ke tempat yang relatif sepi. Jika dikatakan lahan bekas AMP mangkrak, semestinta bisa dialih fungsikanpemanfaatannya. Seperti pembuatan sentra kerajinan atau show room. Mengingat wilayah Pajangan banyak sekali kerajinan dan bisa dibuatkan sentra sehingga mendongkrak ekonomi dan juga wisata di tempat tersebut.

Baca Juga :  Puluhan Warga Menuntut Pilkades Ulang

“Kalau soal keinginan Pemda untuk menambah PAD dengan pengoperasikan AMP, kami sepakat. Hanya saja lokasinya yang dipikirkan agar tidak mengganggu pemukiman,”katanya.

Selain itu keinginan untuk mengajak warga melihat AMP di Klaten milik investor yang sudah beroperasi, menurut Ratno bukan solusi. Karena akan beda lokasi dan kultur masyarakat.

Seperti diberitakan sebelumnya , rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul untuk mengoperasikan kembali AMP mendapat reasksi dari warga dengan munculnya spanduk penolakan AMP yang lokasinya berada di dekat MIN.

“Kita akan terus sosialisasikan tentang pengoperasian AMP. Jika ada kekhawatiran polusi seperti debu dan lainnya, tentu nanti akan kita pikirkan. Caranya adalah investor harus memenuhi semua syarat mengenai dampak lingkungan dan semua syarat lain,”kata Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Bantul, Isa Budi.

Selain itu, nantinya warga akan diajak ke AMP yang ada di Klaten guna melihat langsung bagaimana pengoperasian AMP di sana.

Kebetulan investor untuk Pajangan dan Klaten adalah sama.

Baca Juga :  DPRD DIY Dukung Pemda Beri Beasiswa Guru

“Sosialisasi akan dilakukan se gamblang-gamblangnya hingga masyarakat sekitar benar-benar paham. Nanti akan diatur waktunya juga  untuk melakukan kunjungan semacam studi banding, agar warga melihat seperti apa AMP itu,”katanya.

Sementara Sekda Bantul, Riyantono mengatakan masih adanya pihak yang belum bersepakat dengan pengoperasian kembali AMP harus disikapi dengan memberikan pemahaman kepada mereka. Caranya dengan terus melakukan sosialisasi.

“Pengoperasian kembali AMP adalah untuk meningkatkan PAD Bantul.  AMP ini dulu pernah beroperasi, namun kemudian investor menghentikan sejak dua tahun lalu dan mangkrak termasuk alat-alatnya. Barulah sekarang ada rencana investor lagi yang akan menggarap AMP,”katanya.

Saat ini baru tahap awal sosialisasi dan Pemkab Bantul sendiri belum tahu kapan rencana AMP akan mulai beroperasi.

“Namun yang jelas perizinan harus dipenuhi terlebih dahulu semuanya. Sehingga saat beroperasi sudah tidak ada masalah,”katanya.

Untuk AMP terdahulu, mampu menyumbang PAD  kisaran Rp 1 miliar per tahun. Tentunya untuk investor yang baru masih akan dilakukan negosiasi termasuk untuk alat-alatnya akan dikerjasamakan atau dari pihak investor saja. (SM)