Warga Panik Hujan Abu Tiba-tiba Turun

132
Warga membagikan masker saat hujan abu akibat letusan Gunung Merapi, Jumat (11/05/2018). (rosihan anwar/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Warga yang berdiam di kawasan Lereng Gunung Merapi Sleman sempat panik dan terkejut mendengar suara gemuruh di pagi hari, Jumat (11/05/2018). Warga berhamburan keluar rumah dan mengungsi. Suara itu ternyata berasal dari letusan freatik gunung api teraktif di dunia.

Kepala Desa Purwobinangun Kepala Desa Purwobinangun Kecamatan Pakem, Heri Suasana, mengatakan warga diungsikan ke titik kumpul Balai Desa Purwobinangun.

“Tadi warga sempat sedikit panik. Setelah kita melihat letusan di atas, kita mengumpulkan warga yang di atas, khususnya di Pedukuhan Turgo, “ katanya.

Pihaknya kemudian menyiapkan 800 nasi bungkus ketika mengungsikan warga untuk sementara waktu ke Balai Desa Purwobinangun. Sedangkan dapur umum pagi itu juga sedang dipersiapkan.

“Karena ini mendadak. Kita beli makanan yang siap dimakan dulu. Kita sudah beli 800 bungkus makanan untuk dibagikan ke warga,” ujarnya.

Baca Juga :  Roby Haryono Terima Modal Usaha dari Baznas

Seorang relawan dari Paguyuban Relawan Bencana (PRB) Turi, Muji Handoko, menyebutkan, para relawan telah membagikan ribuan masker beberapa saat pasca letusan freatik terjadi.

Masker tidak hanya dibagikan kepada warga desa saja tetapi juga masyarakat yang hendak menuju kawasan Gunung Merapi.

“Kami telah mendapat instruksi dari BPBD Sleman agar seluruh relawan bergerak membantu warga dalam situasi ini. Termasuk di antaranya membagikan masker,” kata dia.

Hingga Jumat siang, aktivitas masyarakat di Lereng Gunung Merapi berangsur-angsur kembali normal. Warga tetap beraktivitas seperti biasa di tengah debu vulkanik tebal yang menyelimuti daerah tersebut.

Letusan Merapi juga membuat pemangku kepentingan terkait bergerak cepat dalam tanggap bencana kali ini. Hanya anak-anak, ibu hamil, orang rentan dan lansia yang masihd tinggal di barak pengungsian.

Freatik

Dari laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Penanggulangan Bencana (PB) DIY, terjadi kegempaan dengan durasi kegempaan 5 menit. Adapun ketinggian kolom mencapai 5.500 m di atas puncak.

Baca Juga :  Kami Tak Incar Uang, Ini Demi Kehormatan Trah HB VII

Pada pukul 08:54 terjadi erupsi yang bersifat freatik ( dominasi uap air). Erupsi berlangsung satu kali dan tidak diikuti erupsi susulan, sebelum erupsi freatik terjadi jaringan seismik gunung Merapi tidak merekam adanya peningkatan kegempaan.

Namun demikian sempat teramati peningkatan suhu kawah secara singkat, pada pukul 06:00. Pascaerupsi kegempaan yang terekam tidak mengalami perubahan suhu kawah mengalami penurunan.

Berdasarkan pantauan citra satelit cuaca RGB Himawari menunjukkan pergerakan sebaran abu vulkanik ke arah selatan-barat daya.

Hujan abu selain gerjadi terjadi di wilayah Sleman juga di wilayah Kota Yogyakarta, Bantul dan dilaporkan sampai pula di Gungkidul. Bandara Adisutjipto untuk sementara dinyatakan ditutup. Demikian pula kawasan wisata Kaliurang dan tempat wisata di lereng Merapi ditutup sementara. (sol)