Warga Nekat Menghadang Alat Berat

319

KORANBERNAS.ID – Proses perataan tanah proyek pembangunan NYIA (New Yogyakarta International Airport) Kulonprogo sedikit terhambat. Gara-garanya, ratusan warga protes dan nekat menghadang alat berat yang dikerahkan untuk meratakan lahan tambak udang di atas PAG (Paku Alam Ground), Senin (28/08/2017).

Mereka berkumpul di dekat alat berat yang akan digunakan untuk meratakan tambak udang mereka. Ketika operator alat berat akan memulai pekerjaan, sempat terjadi ketegangan dengan warga yang menghalanginya.

Sebelum terjadi tindakan anarkis, seratusan petambak yang berkumpul  di sebelah barat pendapa Labuhan Pakualaman ini kemudian dimediasi oleh aparat Polres Kulonprogo. Prinsipnya, jajaran Polres Kulonprogo akan mengawal proyek nasional tetap berjalan.

Warga menghalangi perataan tambak karena mereka selaku penggarap PAG belum menerima dana yang dijanjikan oleh Pura Pakualaman. Saat ini ganti rugi PAG sedang dalam proses konsinyasi di pengadilan

“Silakan dikerjakan perataan tanah PAG. Tetapi yang sudah milik AP I sepenuhnya, bukan yang masih bersengketa. Kami menuntut kepastian terlebih dulu. Kalau sudah ada hitam di atas putih, mangga dikerjakan,” ujar Bayu Putro (30), perwakilan warga.

Baca Juga :  Mobil Rombongan Gubernur DIY Kecelakaan

Ganti rugi lahan PAG di pantai selatan kawasan Temon ini memang sudah dibayar oleh PT Angkasa Pura ke Pura Pakualaman melalui proses konsinyasi. Hanya saja, urusan Pura Pakualaman dengan para penggarap PAG belum selesai. Penggarap belum menerima dana kompensasi yang dijanjikan.

Warga keberatan karena beberapa tambak masih dalam proses pembesaran dan belum dipanen. Warga ingin tambak yang dibuat dengan modal besar itu tidak diratakan sebelum hasilnya dipanen. “Harapannya kami bisa panen semua karena ini modalnya besar. Jangan sampai ada yang merugi,” tambahnya.

Melalui proses mediasi, petambak dengan PT Angkasa Pura akhirnya sepakat, perwakilan petambak akan diantar ke Pura Pakualaman untuk meminta kejelasan terkait tali asih penggarap PAG.

Adapun kegiatan perataan tanah dilakukan di tambak kosong terlebih dulu, baik yang sudah kering maupun yang masih dipenuhi air bekas budidaya udang. Warga juga diminta secepatnya mengosongkan atau memindahkan udang yang masih ada di dalam kolam.

Baca Juga :  Kedua Matanya Tidak Bisa Melihat

Project Manager Pembangunan NYIA PT Angkasa Pura I, Sujiastono, agaknya mengabaikan kepentingan masyarakat terdampak. Sepertinya dia tidak  mau ambil pusing dengan tambak udang tersebut.

Alasannya  pihaknya sudah membayar dana ganti rugi PAG melalui konsinyasi di pengadilan lantaran ada sengketa atas tanah tersebut. Sedangkan soal pemberian tali asih, merupakan urusan antara warga pengguna PAG dengan pihak Pura Pakualaman.

“Tali asih itu hal yang berbeda dengan proyek (bandara), itu antara PA dan warga. Saya tidak akan berkomentar tentang udang. Pekerjaan saya menyelesaikan proyek, bukan soal udang,” katanya.

Dia menegaskan, proyek harus tetap jalan. “Kita jalan, meratakan tambak-tambak yang sudah kering dan selanjutnya meratakan yang masih ada airnya,” kata Sujiastono. (wid)