Warga Sedayu Gelar Operasi Tikus dan Sampah 

338
Petani melakukan kegiatan gropyokan  tikus di Bulak Tegalrejo, Dusun Panggang Desa Argomulyo, Minggu (25/02/2018). (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Masyarakat di Sedayu menggelar dua kegiatan secara terpisah, Minggu (25/02/2019). Di lokasi Bulak Tegalrejo, Dusun Panggang, Desa Argomulyo, puluhan petani bersama Babinsa, petugas PPL dan dinas terkait menggelar kegiatan gropyokan tikus.

Selain dengan cara manual yakni dicangkul dan pengasapan, juga dibentangkan Trap Barrier System (TBS) yakni melingkari tanaman padi dengan plastik dengan setiap 20 meter dipasangi alat perangkap tikus.  Alat ini dipasang sejak tanam hingga tiba panen mendatang.

“Dengan TBS tikus tidak bisa masuk ke lahan pertanian yang ada,” kata Dukuh Panggang Wahyu Joko kepada koranbernas.id di lokasi gropyokan.

Sedangkan untuk lokasi tepian sungai, dilakukan pengasapan dan pencangkulan liang persembunyian tikus. Begitu tikus keluar, petani langsung membunuh dengan cara dipukul menggunakan alat yang sudah mereka siapkan.

Menurut Dukuh Wahyu, gropyokan rutin dilakukan oleh petani. Ini dilakukan  mengingat di persawahan tersebut, bulir tanaman padi sudah mulai berisi.

Sehingga tanpa gropyokan, dikhawatirkan mereka akan gagal panen.

“Sudah tiga tahun terakhir kami tidak meraih hasil panen seperti harapan karena diserang tikus,” katanya.

Dikatakan, luasan lahan yang terserang tikus di wilayah Argomulyo mencapai 30 hektar lebih. Dengan kegiatan gropyokan tikus, lanjutnya terbukti mampu membunuh hewan pengerat tersebut. Tercatat ada 300 ekor lebih bisa ditangkap dalam dua kali kegiatan.

Baca Juga :  “Werkudoro Gugat” Warnai Merti Dusun
Sampah yang sudah menumpuk lebih dari 10 tahun di pekarangan Mbah Panut (64 tahun) Dusun Sedayu, Desa Argosari dibersihkan menggunakan alat berat Minggu (25/02/2018). (sari wijaya/koranbernas.id)

Secara terpisah, warga di Dusun Sedayu, Desa Argosari mengucapkan rasa syukur dan menyambut antusias kegiatan pengerukan sampah yang sudah menumpuk lebih dari 10 tahun di pekarangan rumah Mbah Panut (64).

Pengerukan menggunakan  alat berat dan diangkut dengan mengerahkan 11 dump truk dan kemudian dibawa  ke TPA Piyungan.

Pelaksanaan pengerukan sampah yang tingginya mencapi 2,5 meter dan diperkirakan volumenya mencapai 20 dump truk tersebut disaksikan langsung oleh Camat Sedayu Drs Fauzan Muarifin dan Danramil Kapten (Inf) Kusmin.

Pelaksanan pembersihan sampah juga didukung masyarakat setempat  yang  terlihat mengenakan masker saat bekerja. Maklumlah bau menyengat sangat terasa ketika berada di lokasi.

“Terima kasih kepada pemerintah yang sudah melakukan pembersihan sampah di rumah Mbah Panut. Selama ini memang baunya sangat menyengat dan mengganggu lingkungan,”kata Ny Maria Susanti warga setempat.

Bukan hanya bau, warga lainnya Agus mengatakan jika sampah itu menyebabkan air sumur di rumahnya berbau. Karena saat hujan, air rembesan dari sampah mengalir ke semur-sumur warga.

Sebenarnya upaya untuk mengkomunikasikan hal tersebut kepada Mbah Panut sudah dilakukan. Namun belum mendapat tanggapan semestinya. Barulah setelah Muspika datang, akhirnya Mbah Panut mengijinkan sampah dibersihkan.

Baca Juga :  Mengurus Ijin Bisa Online

Sementara Camat Fauzan mengatakan kegiatan pembersihan sampah untuk mendukung Sedayu bebas sampah baik sampah visual maupun jenis sampah lainnya di tahun 2018. Juga untuk menciptakan kebersihan lingkungan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

“Ini kalau hujan air dari sampah mengalir kemana-mana dan menimbulkan pencemaran. Sehingga setelah kita pendekatan dan komunikasi kepada Mbah Panut, boleh dibersihkan dan semua kegiatan ditanggung  secara bersama oleh pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan kas RT,”katanya.

Pembersihan sampah dalam skala besar di Sedayu ini merupakan yang kedua kalinya, setelah hal serupa dilakukan di Dusun Kaligondang.

“Cuma dua tempat ini yang volume sampahhya besar, dan sekarang sudah tidak ada lagi,” katanya.

Sedangan Mbah Panut mengatakan sampah itu dibuang ke pekarangan ketika dirinya  bekerja menjadi tukang pembersih sampah di perumahan dekat tempat tinggalnya. Dalam sehari, setidaknya Mbah Panut melayani jasa pembuangan sampah dari 30 rumah menggunakan sepeda. Selanjutnya sampah dibuang ke pekarangan  dan kadang-kadang dibakar.

“Saya buang di pekarangan saya, soalnya kalau ke TPA Piyungan itu jauh. Sekarang saya juga sudah berhenti menjadi tukang sampah karena telah ada teman saya yang menggantikan. Sampah  oleh teman saya  begitu diambil dari perumahan langsung dibuang ke TPA Piyungan,”katanya. (SM)