Warga Usung Ingkung Raksasa Keliling Desa

437
Warga mengusung ingkung raksasa guna memeriahkan kirab budaya memperingati hari jadi ke-71 Desa Karangsari Kecamatan Pengasih Kulonprogo, Rabu (31/01/2018). (sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Empat orang pemuda dan seorang bocah itu memilih duduk sejenak di samping ingkung raksasa yang diusungnya dengan batang bambu.

Namun ayam raksasa tersebut bukanlah asli melainkan replika terbuat dari kertas yang sengaja diarak keliling desa guna memeriahkan kirab budaya memperingati hari jadi ke-71 Desa Karangsari Kecamatan Pengasih Kulonprogo, Rabu (31/01/2018).

Penjabat Kepala Desa Karangsari, Mujirin, mengungkapkan pada peringatan kali ini panitia mengangkat tema Wewujudkan Desa Karangsari yang Mandiri dan Berbudaya. Peringatan seperti ini terakhir kali dihelat beberapa tahun lalu.

“Ada berbagai kegiatan mulai dari bazar kuliner, gelar pentas budaya, upacara peringatan, kirab budaya dan puncaknya pergelaran wayang kulit semalam suntuk,” kata Mujirin.

Dia berharap masyarakat Karangsari membangun dan memajukan wilayahnya tanpa meninggalkan budaya yang berkembang sejak dulu. Bahkan dia berharap Karangsari bisa menjadi desa wisata berbasis budaya.

“Peserta sekitar 3.500 orang dari 12 pedukuhan dan dua SD di Karangsari. Setiap pedukuhan harus menampilkan budaya yang berkembang di wilayahnya,” kata dia.

Kirab dimulai dari halaman Balai Desa Karangsari dan berakhir di tempat yang sama dengan jarak sekitar 5 kilometer. Ribuan warga dari 12 pedukuhan dan dua sekolah dasar turut memeriahkan acara tersebut.

Kirab budaya diawali Bregada Nunggal Roso dari Pedukuhan Kopat. Selain bregada, warga Kopat juga menampilkan adegan perlambang budaya gotong royong yang masih kental dijaga masyarakat desa itu.

Peserta kirab mengenakan pakaian adat, mulai dari pakaian kejawen hingga kostum yang dikombinasikan dengan sejumlah bahan.

Tak ketinggalan, warga Pedukuhan Suruhan menampilkan grup perkusi dengan nama Marching Black. Kostum pemain terbuat dari daun pisang kering.

Penampilan mereka mamukul kaleng bekas layaknya marching band asli. Kelompok ini mampu menyedot perhatian warga yang menonton berderet di pinggir jalan.

Salah seorang warga, Respati Handayani (27) mengaku sangat mendukung pelaksanaan peringatan hari jadi desa kali ini. Dengan diadakannya kirab budaya, masyarakat bisa turut melestarikan kebudayaan yang berkembang selama ini.

“Acara budaya ini bagus sekali untuk melestarikan budaya dan seni. Ini merupakan hiburan dan wahana kumpul warga dalam jumlah besar. Silaturahim akbar,”  katanya. (sol)