Wartawan Banyumas Jadi Korban Kekerasan

196
Ketua PWI Banyumas,Sigit Oediarto (dua dari kiri) mengadukan kasus kekerasan ini ke Kapolres Banyumas, Selasa (10/10/2017). (prasetiyo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Aksi kekerasan oleh oknum aparat dari Polres Banyumas dan Satpol Pamong Praja Kabupaten Banyumas menimpa para wartawan yang bertugas di Kabupaten Banyumas. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banyumas dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Purwokerto pun, mengecam tindakan represif terhadap pengunjuk rasa dan sejumlah awak media, Senin (9/10/2017) malam.

Kejadian tersebut berawal saat terjadi aksi pembubaran massa aksi demo penolakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Baturraden oleh Polisi dari Polres Banyumas dan Satpol PP, sekitar pukul 22:00.

Sebanyak 4 wartawan yaitu Agus Wahyudi dari Suara Merdeka, Aulia El Hakim (Satelitpost), Maulidin Wahyu (Radar Banyumas) dan Darbe Tyas dari Metro TV, langsung mengabadikan momen pembubaran aksi tersebut.

“Saat empat wartawan tersebut berhasil mengabadikan atau mendokumentasikan momen tersebut, sejumlah oknum polisi dan Satpol PP, memaksa dan berusaha merampas alat kerjanya, seperti HP dan kamera. Bahkan, jika alat kerja tersebut tidak diserahkan dan gambar yang sudah diambil dihapus, telepon genggam dan kamera mau dibanting dan ada yang dirampas dibawa pergi,” kata Agus Wahyudi salah seorang wartawan Suara Merdeka yang berada di lokasi, Selasa (10/10/2017).

Bahkan Agus melihat wartawan Metro TV, diinjak-injak, ditendang dan dipukul oleh sekitar sepuluh aparat. Saat terdorong hingga tersungkur, jurnalis tersebut sudah memperlihatkan kartu persnya. Namun tak dihiraukan.

Agus mengatakan, korban awalnya berusaha melindungi fotografer Suara Merdeka, Dian yang sedang terancam menjadi sasaran pengeroyokan oleh anggota Polres Banyumas dan Satpol PP.

“Darbe Tyas sudah menggunakan kartu identitas pers dan mengatakan dirinya seorang wartawan. Namun justru ia ditangkap, diarak oleh sejumlah anggota polisi dan Satpol PP. Setelah diarak ke arah gerbang kabupaten dari arah depan Pendapa Si Panji, langsung dianiaya,” ujarnya.

Namun hal itu tetap tidak diindahkan oknum aparat. Kekerasan tersebut, lanjut Agus, dilakukan di sudut gerbang kantor pemkab sebelah barat sekitar pukul 22:05 dan berlangsung sekitar 10 menit.

Aksi tersebut berhenti setelah Dian terus berteriak histeris. Jusnalis tv itu dalam keadaan tak berdaya ditolong wartawan lain, Wahyu dan Dian. Kacamata dan kartu pers saya hilang. Ada oknum petugas yang merampas,” ujar Darbe.

Karena kondisi Darbe mengkhawatirkan dan takut terjadi sesuatu, sejumlah wartawan dan relawan dari masyarakat mengantar ke rumah sakit Rumah Sakit Wijaya Kusuma Purwokerto.

Saat diminta konfirmasi, Kapolres Banyumas AKBP Bambang Yudhantara Salamun menjelaskan pihaknya akan menelusuri kasus tersebut

“Itu sedang saya telusuri terkait wartawan yang dipukuli, kami akan telusuri kejadiannya seperti apa. Coba kami dalami,” tuturnya.

Bambang menegaskan dia akan menindak tegas anggotanya yang terbukti melakukan kekerasan tersebut.

“Jelas kalau memang ada terjadi pemukulan itu dan ada anggota kita yang melakukan akan kita tidak tegas,” katanya.

Bambang sempat menjelaskan soal pembubaran aksi demo Senin malam . Pembubaran sudah dilakukannya sejak pukul 18:00.

“Ini sedang kami dalami, yang diawali dari aksi unjukrasa oleh teman-teman mahasiswa dan masyarakat yang kami sudah kawal dari pagi jam 08:00 sampai jam 22:00,” ujarnya.

Kemudian pada pukul 22:00 , lanjut Bambang, pihaknya melakukan pembubaran massa. Bambang mengatakan bahwa massa melakukan perlawanan.

“Karena mereka membangun tenda, pada saat kita mau angkut tenda-tendanya itu dan arahkan untuk kembali (pulang), terjadi ricuh,” ujarnya.

Wartawan Pekalongan mendukung aksi yang dilakukan para wartawan di Banyumas. (prasetiyo/koranbernas.id)

PWI dan AJI Mengecam

Baca Juga :  Pangan Lokal Tidak Harus Berupa Beras

Ketua PWI Banyumas Sigit Oediarto ketika dikonfirmasi menyesalkan kekerasan aparat pada wartawan di tengah aksi penolakan PLTPB. Apalagi, katanya, kerja wartawan dilindungi undang-undang. “Kami menuntut para pelaku kekerasan diusut,” katanya.

Senada dengan PWI Banyumas, Ketua AJI Kota Purwokerto, Rudal Afgani mengecam tindakan represif aparat terhadap pengunjuk rasa dan sejumlah awak media. “Kerja jurnalis dilindungi Undang-undang Pers. Pasal 18 UU nomor 40 tahun 1999 tentang Pers menyatakan setiap orang yang menghalangi kerja-kera jurnalis bisa dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta,” tegasnya.

Ia mengatakan, tak semestinya polisi maupun Satpol PP menggunakan kekerasan terhadap jurnalis yang tengah menjalankan tugasnya. “Kami mengecam keras kekerasan terhadap jurnalis. Kekerasan yang dilakukan kepada jurnalis sama dengan pembungkaman terhadap kebebasan berekspresi yang dijamin dalam konstitusi. Ini tidak bisa dibiarkan,” tegas Rudal Afgani.

Ia akan menggalang dukungan untuk mengadvokasi jurnalis yang menjadi korban kekerasan. “Kami mendesak agar kasus ini diusut tuntas,” tegas redaktur Satelitpost ,koran lokal yang terbit di Kota Purwokerto ini.(sol)