Wartawan BBC London Berbagi Pengalaman di SMPN 1 Bukateja

313
Mohamad Susilo, wartawan senior BBC London bersama anaknya, Kirana Prita Arining Tyas, memotivasi dan menginspirasi siswa-siswi SMPN 1 Bukateja, di aula sekolah setempat, Selasa (19/12/2017). (prasetiyo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Mengisi kegiatan pasca Penilaian Akhir Semester (PAS) ganjil tahun pelajaran 2017/2018, SMPN 1 Bukateja, Selasa (19/12/2017)  mendatangkan Mohamad Susilo  (45).

Dia adalah wartawan senior British Broadcasting Corporation (BBC) London atau BBC London. Ia juga membawa anaknya, Kirana Prita Arining Tyas  (17), yang kini sekolah di Harris Westminster Sixth Form London  atau setingkat SMA Klas 12.

Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah setempat itu untuk melatih anak terampil berbahasa Inggris, dengan penutur yang sehari-harinya memang tinggal di Inggris.

Banyak siswa SMPN 1 Bukateja tertarik mengikuti kegiatan itu. Mereka yang terdiri siswa Kelas 7, 8 dan 9 pun mengajukan berbagai pertanyaan seputar  kehidupan sekolah di Inggris, dan aneka hal seperti bagaimana pelajaran agama di Inggris,  apakah di Inggris ada taman yang indah, dan sebagainya.

Semua pertanyaan dari para siswa itu, dijawab oleh Kirana, panggilan akrab dari anak pertama tiga bersaudara ini, dengan bahasa Inggris kemudian diterjemahkan  ke Bahasa Indonesia oleh ayahnya.

“Bagaimana mata pelajaran sekolah di Inggris. Di SMPN 1 Bukateja, pelajarannya sangat banyak. Ada 13 mata pelajaran. Capek deh…,”  tanya Uswatun Rina Pamungkas, siswi Kelas 9A yang disambut tertawa teman-temannya.

Kirana menjawab tentang sekolah di London Inggris. “Di banding di Indonesia, pelajaran sekolah di sana lebih sedikit. Siswa diajari yang spesifik. Hanya ada pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, sains dan filsafat, ekonomi dan sejarah. Ya..hanya itu,”  ujar Kirana yang bercita-cita ingin kuliah di jurusan PPE (Philosophy, Politics and Economics) di universitas di Inggrisi ini.

Baca Juga :  Empat Kecamatan Alami Kekeringan

Kirana mengakui, gurunya di Inggris saat mengajar asyik-asyik. Misalnya pelajaran sejarah, sang guru bercerita tentang perang. Maka siswa benar-benar diajak ke lokasi  bekas perang, mengenakan properti seperti zaman dulu saat perang dan gurunya bercerita tentang kondisi saat perang dulu.

Di sini, siswa jadi menghayati materi sejarah. Karena menghayati, maka siswa dengan sendirinya akan hafal tentang cerita sejarah itu. “Jadi siswa tidak dipaksa menghafal, tapi menghayati cerita, baru hafal,”  ujarnya seperti diterjemahkan oleh Muhamad Susilo.

Ada siswa lain, Gibran dari Kelas 7A yang bertanya tentang pelajaran agama di sekolah-sekolah di Ingris. “Bagaimana pelajaran agama di sana?” tanya Gibran.

Pelajaran  Agama di Inggris sudah masuk kurikulum di setiap sekolah. “Semua siswa menerima pelajaran agama apapun hanya untuk pengetahuan,” ujar Kirana yang lahir dan besar di Inggris mengikuti tugas ayahnya yang wartawan BBC London itu.

Senang di desa

Kirana mengaku, saat ini sedang berlibur menemui kakeknya di Desa Kembangan Kecamatan Bukateja. Ia senang tinggal di desa, walau sementara.

“Orang desa di  sini ramah-ramah, mudah tersenyum. Namun hawa di sini sangat panas,” ujar Kirana yang tidak fasih berbahasa Indonesia ini.

Baca Juga :  Sitaru Terpadu Wujudkan Sleman Smart Regency

Sementara itu, Mohamad Susilo, wartawan senior BBC London memberi motivasi kepada para siswa, barangkali kelak ada yang bercita-jadi menjadi wartawan di Inggris.

“Jadi wartawan, apalagi di BBC London, itu menyenangkan. Saya bisa keliling ke beberapa negara di dunia, karena tugas jurnalistik sebagai wartawan BBC London. Pesan saya, belajarlah yang sungguh-sungguh dan tekun,”  ujar Susilo.

Mohamad Susilo bergabung dengan BBC awal tahun 2000, dan sebelumnya bekerja untuk harian Jawa Pos biro Jakarta selama kurang lebih dua setengah tahun.

Alumnus pendidikan bahasa Inggris Universitas Negeri Semarang (Unnes)  di BBC Siaran Indonesia ini, pernah mengasuh beberapa majalah, antara lain Seni dan Budaya, Hukum dalam Praktik, dan Dunia Olahraga.

”Dulu saya jarang sekali meliput olahraga. Tetapi karena di BBC tidak ada spesialisasi liputan, maka apapun dikerjakan. Dan itulah salah satu sisi positif di BBC. Anda setiap hari berhadapan dengan bidang liputan yang berlainan,” ujar Susilo.

Kepala SMPN 1 Bukateja, Titik Widajati SPd MPd,  menyambut baik kedatangan Mohamad Susilo dan putrinya, Kirana. “Semoga  apa yang disampaikan bisa memotivasi dan menginsiprasi siswa siswi SMPN 1 Bukateja untuk meraih cita-citanya,”  harap Titik Widajati. (sol)