Waspada, Jamu ”Mbah Joyo”  Dipalsukan

5336
Sutrajaya pemilik merk jamu ayam jago “Mbah joyo” menunjukkan jamu palsu saat pers rilis di Wisma Joyo Tamanan Banguntapan, Kamis (19/10/2017) sore. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORAN BERNAS.ID — Jamu ayam jago “Mbah Joyo” yang diproduksi sejak tahun 2012 di Desa Tamanan Kecamatan Banguntapan oleh pengusaha Sutrajaya sejak setahun terakhir dipalsukan.

Setidaknya ada dua merk dengan tampilan yang nyaris sama dengan tampilan jamu jago “Mbah Joyo”  yakni Jamu “Mbah Wiryo” dan Jamu “Mbah Joyo Soewiryo”. Bungkus nyaris sama dengan dominasi merah hitam, bergambar ayam jago, jenis font juga sama, isi tulisan di bungkus jamu juga sama.

“Sekilas tampilanya sama, jadi pembeli yang belum paham bisa tertipu,” kata Sutrajaya, pemilik jamu merk “Mbah Joyo” dalam jumpa pers di Wisma Joyo Jalan Imogiri Timur Tamanan, Banguntapan, Kamis (19/10/2017) sore.

Saat itu Sutrajaya  juga menunjukkan jamu yang asli dan yang palsu. Berdasarkan  pengamatan koranbernas.id memang sekilas sama. Jamu Wiryo diproduksi pengusaha berinisal Ars sedangkan jamu “Mbah Joyo Soewiryo” oleh pengusaha berinisial Hng.

Tapi jika cermat, ada perbedaan yang kentara. Untuk jamu “Mbah Joyo” yang asli kemasannya menggunakan aluminium foil sedangkan yang palsu menggunakan kertas biasa. Untuk ramuan jamunya, menurut Sutrajaya, juga berbeda.

Yang asli menggunakan rempah pilihan ditambah bahan impor dari luar negeri seperti ginseng Korea. Sementara yang palsu dari hasil penggerebekan polisi di Solo, Selasa (17/10/2017) lalu diketahui hanya kunyit dan temulawak ditambah bahan kimia. “Tentu saja menggunakan jamu yang palsu ini membuat konsumen juga dirugikan,”katanya.

Baca Juga :  PDHI Rintis Pesantren Berbasis Lingkungan Hidup

Bahkan banyak yang kemudian komplain ke dirinya karena ada ayamnya yang kulit menjadi merah karena dampak mengkonsumsi jamu karena mengira itu jamu produksinya. Bahkan ada yang bilang  tembolok ayamnya tidak bisa turun hingga ada kejadian ayam mati.

Jamu “Mbah Joyo” yang asli (kiri) menggunakan bungkus aluminium foil. Jamu “Mbah Joyo” palsu menggunakan bungkus kertas.(sari wijaya/koranbernas.id)

Pemalsuan ini, menurut Sutrajaya yang akrab disapa Mbah Joyo, memang berdampak signifikan terhadap produk jamu yang diproduksinya.

Penurunan bisa mencapai 60 persen bahkan lebih. Misalnya jika sebelum marak pemalsuan itu sehari dirinya bisa melempar ke  pasaran jamu 6.000 renteng dimana tiap rentang isi 10 bungkus, saat marak pemalsuan hanya mampu menjual 1.500 renteng hingga 2.000 renteng.

Dampaknya adalah pengurangan pegawai atau tenaga kerja di industri jamu tersebut. Namun demikian, Sutrajaya berharap setelah penggerebekan yang dilakukan aparat dari Polda Jawa Barat, maka produksi akan pulih kembali dan tenaga kerja akan bisa ditarik kembali.

“Penggerebakan dilakukan oleh Polda Jabar, karena memang jamu palsu ini pertama kali saya temukan di agen Bandung dan saya laporkan ke polisi di sana,” katanya.

Selama ini modus dari pemalsu jamu menurut Sutrajaya adalah dengan mengaku masih ada kekerabatan dengan Mbah Joyo dan mengatakan jamu Mbah Joyo bangkrut. Sehingga merekalah yang kemudian meneruskan idustri jamu tersebut.

Pemalsu juga mendatangi agen-agen dengan menararkan harga lebih murah. Jika jamu “Mbah Joyo” asli harga Rp 60.000 tiap renteng atau eceran Rp 10.000 per bungkus, harga jamu palsu pada kisaran Rp 40.000 hingga Rp 57.000 tiap renteng isi 10 bungkus.

Baca Juga :  Siswa Tak Mampu Jangan Dibebani Sumbangan Apapun

“Namun kemudian banyak agen yang memberi informasi hal tersebut ke saya, sehingga kasus ini terungkap. Apalagi ada upaya dari produsen Mbah Joyo Palsu untuk mematenkan merk jamunya, padahal saya sudah memiliki hak paten sejak 2014. Maka dari sana alamat jamu palsu bisa diketahui dan dilakukan tindakan setelah polisi berkoordinasi dengan Kemenkum HAM,” katanya.

Sementara agen jamu “Mbah Joyo” di Jalan Wates Ngestiharjo Nurul Imam mengatakan memang ada pihak jamu palsu yang mencoba menawarkan produk ke dirinya. Namun Imam yang sudah mengetahui soal peredaran jamu palsu menolak.

“Efek dari jamu palsu ini juga banyak. Misal ayam  menjadi tidak bertenaga, karena lemas. Padahal jamu Mbah Joyo asli fungsinya itu adalah menambah stamina,”kata Imam.

Jelas peredaran jamu Mbah Joyo palsu ini sangat merugikan penjualan jamu “Mbah Joyo” asli. Karena konsumen yang belum paham bisa tertipu dengan yang palsu. Atau ada keluhan juga, jamu “Mbah Joyo” khaisatnya tidak seperti dulu, padahal yang dipakai  tersebut adalah jamu  palsu.

“Jadi konsumen harus cermat dalam membeli. Karena walaupun jamu Mbah Joyo palsu sudah stop produksi sejak penggerebekan, namun yang stok di pasaran kan masih beredar,” kata Imam. (sol)