Waspadai Benih Simpatisme Terorisme

299
Diskusi "Antisipasi Propaganda Paham Radikal di Masyarakat" yang digelar Himpunan Mahasiswa Ngali (HMN) NTB di Khetek Ogleng, Kamis (28/06/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Aksi teror masih saja terjadi meski berbagai upaya dilakukan. Karenanya diharapkan masyarakat dapat mewaspadai dan tidak bersimpatik pada pelaku-pelaku teror.

“Jangan sampai masyarakat bersimpati pada teroris, termasuk memberikan dukungan di media sosial karena hal itu justru akan menjadi amunisi bagi mereka untuk terus melakukan hal yang sama. Jadi tidak usah bersimpati kepada mereka, wong mereka melakukan pembunuhan di beberapa tempat kok kita simpati kepada mereka. Jelas salah, ada korban dan pelaku masak ada yang mengatakan itu rekayasa, lha berjalan belasan tahun sejak ada bom bali, mariot masak bisa direkayasa,” ungkap Direktur Pencengahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Hamli SE dalam diskusi “Antisipasi Propaganda Paham Radikal di Masyarakat” yang digelar Himpunan Mahasiswa Ngali (HMN), Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) di Khetek Ogleng, Kamis (28/06/2018).

Menurut Hamli, aksi simpati tersebut bisa menjadi salah satu bentuk benih berkembangnya terorisme. Bila dibiarkan bisa semakin meningkat dalam bentuk aksi yang lebih besar.

Baca Juga :  Pelatih Berdiri Ketika Ada yang Salah Pukul

Hamli menyebutkan, terdapat tingkatan dalam pergerakan atau aksi terorisme. Mulai dari menjadi simpatisan, suporter, operator hingga otak sekaligus penyebar ideolog.

Tingkatan dukungan tersebut bisa saling berkaitan karena bisa jadi menjadi suporter biasanya berawal dari menjadi simpatisan. Namun pengambil kebijakan sulit untuk menjerat orang-orang yang menjadi simpatisan ke dalam ranah hukum.

“Padahal bisa saja dari simpatisan menjadi pelaku teror. Kalau suporter biasanya mendukung dalam bentuk uang atau logistik dan bila ada buktinya maka bisa dijerat hukum, tapi kalau simpatisan bagaimana membuktikannya,” tandasnya.

Hamli tak merinci jumlah simpatisan teroris di Indonesia. Namun dia menegaskan adanya keberadaan simpatisan dari berbagai kalangan masyarakat.

Mahasiswa pun menjadi salah satu objek yang strategis untuk dicekoki paham radikal. Mulai dari awal menjadi simpatisan.

Baca Juga :  Desa Perlu Membuka Informasi, Apa Manfaatnya?

“Meski sebenarnya siapa saja bisa berpotensi menjadi simpatisan,” ungkapnya.

Sementara Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Muhammad Syifa Amin Widigdo mengungkapkan mahasiswa menjadi obyek strategis dalam penyebaran paham radikal. Mereka mudah disusupi karena berada pada masa pencarian jati diri yang sering merasa ingin banyak tahu dan mencoba merasakan banyak ideologi mulai dari liberal, moderat hingga radikal.

“Mahasiswa yang kadang tidak paham betul konsep khilafah gampang dicekoki. Ada yang ingin membaca buku berbagai genre dan mahzab, ada yang pergerakan yang paling kiri dan kanan semua ingin dirasakan kalau mahasiswa,” jelasnya.

Syifa berharap masyarakat, termasuk mahasiswa perlu banyak mempelajari referensi. Dengan demikian mereka agar tidak terjebak pada satu pemahaman saja, sikap kritis harus ada juga untuk menangkal radikalisme.(yve)