Waspadai Gejala Kebutaan pada Anak-anak

209
Prof  Dr Suhardjo Sp M menunjukkan foto mata yang terkena tumor, Senin (02/04/2018) di depan wartawan di Poli Mata RSUP Dr Sardjito. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Bayi-bayi yang lahir prematur harus diperiksakan ke dokter spesialis mata. Ini karena mereka cenderung berpotensi mengalami gangguan perkembangan saraf mata retina yang disebut Retinopathy of Prematurity (ROP).

“Jika dideteksi sejak dini gangguan penglihatan karena ROP bisa ditangani sehingga terhindar dari kebutaan absolut,” kata Prof Dr Suhardjo Sp M dari RSUP Dr Sardjito Yogyakarta kepada wartawan, Senin (02/04/2018), di Poli Mata rumah sakit tersebut.

Penyebab lain kebutaan pada anak, dahulu bisa juga disebabkan kekurangan vitamin A. Namun menurut Suhardjo, kini sudah jarang terjadi.

Kelainan mata pada anak yang lain adalah mata malas (ambliopia) dan mata juling (strabismus). Kelainan refraksi menempati urutan pertama pada penyakit mata di Indonesia dengan prevalensi 25 persen dari total populasi atau sekitar 55 juta jiwa.

Dari jumlah itu 15 persen di antaranya diderita oleh anak-anak sekolah. Apabila kelainan-kelainan itu bisa dideteksi sejak dini,  kebutaan di kalangan anak-anak dapat dicegah.

“Penyebab lain kebutaan pada anak adalah tumor atau retinoblastoma serta gloukoma kongenital,” kata Suhardjo.

Baca Juga :  Kulonprogo Terancam Tanggap Darurat Bencana,

Kasus retinablastoma dulu memang pernah banyak terjadi bahkan beberapa di antaranya terlihat bola matanya menonjol ke luar.

Meskipun kasusnya memang menurun tetapi hingga kini tetap ada. Rata-rata dua kasus retinoblastoma ditangani Bagian Kesehatan Mata RSUP Dr Sardjito.

Karena anak adalah aset masa depan bangsa, agar jangan sampai kecolongan maka orang tua harus mulai waspada terhadap anak usia di bawah tiga tahun yang sering mengucek-ucek mata dan berkedip karena kurang fokus ketika melihat obyek.

Atau, anak tidak memberi respons terhadap cahaya atau lingkungan, mata merah dan sering berair. Jika sampai terjadi seperti itu, orang tua harus segera memeriksakan anaknya ke dokter spesialis mata.

“Dulu berobat ke dokter sering terkendala biaya, setelah ada BPJS maupun kartu menuju sehat dan sejenisnya orang lebih mudah mengakses pelayanan kesehatan gratis. Ini diharapkan bisa menekan terjadinya kebutaan lantaran terlambat terdeteksi,” ungkapnya.

Baca Juga :  Suporter Brutal Korban pun Berjatuhan
Pasien Poli Mata RSUP Dr Sardjito memadati bangsal tunggu. (arie giyarto/koranbernas.id)

Gangguan penglihatan baik yang dimulai dari low vision sampai kebutaan bisa juga karena faktor keturunan. Penderita diabetes atau tekanan darah tinggi dianjurkan lebih rajin memeriksakan kesehatan matanya. Jangan sampai terlambat terdeteksi sehingga menyesal setelah kehilangan penglihatan total.

Data World Health Organization (WHO) menunjukkan pada tahun 2009 terdapat 45 juta orang mengalami kebutaan di seluruh dunia. Dan 135 juta dengan low vision, setiap tahun tidak kurang dari tujuh juta mengalami kebutaan.

Masalah ini akan dibicarakan dalam Annual Scientific Meeting (ASM) di Yogyakarta pada 6 dan 7 April 2018. Kegiatan yang dilakukan dalam rangkaian Dies Natalis FKKMK UGM kali ini bertema Pengendalian Kesehatan Mental Menuju Indonesia Sehat.

Peserta akan dibagi dua kelompok yakni kelompok dokter dan kelompok paramedis. Dijadwalkan hadir spesialis mata subs spesialis retina dari Tiganga Institute of Ophthalmology Kathmandu, yang diakui sebagai terbaik di dunia. Juga beberapa ahli dari Indonesia. (sol)