Wisata Sungai Ibarat Gajah di Pelupuk Mata

467
Bambang Supriyadi (tengah) bersama Ketua Stipram, Suhendroyono (kanan) pada National Conference Ecotourism di Auditorium Kampus Stipram, Kamis (22/02/2018). (yvesta putu satrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID —  Indonesia merupakan negeri kaya raya sumber daya air. Ratusan sungai besar terdapat di negeri ini dengan beragam potensinya yang bisa dikemas sebagai obyek wisata.

“Betapa pentingnya sungai bagi pariwisata. Jangan lagi sungai dianggap sebagai bak sampah untuk buang kotoran tetapi jadikanlah sebagai urat nadi kepariwisataan yang akan menumbuhkan perekonomian,” ungkap Suhendroyono SH MM MPar CHE, Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (Stipram) Yogyakarta, Kamis (22/02/2018).

Menyampaikan kata sambutan pada National Conference Ecotourism di Indonesia Pemanfaatan Aliran Sungai Sebagai Obyek Wisata Terbarukan, di Auditorium Kampus Stipram Jalan Lingkar Timur Yogyakarta, dia menyatakan keprihatinannya atas fakta tersebut.

Ironisnya, water management sepertinya tidak pernah  diurus secara serius. Ibarat gajah di pelupuk mata, sesuatu yang besar justru tidak kelihatan, potensi yang sesungguhnya sangat luar biasa tersebut tidak digarap.

“Padahal negara kita negara tropis. Negara perairan dan kepulauan. Komposisi perairan dan daratan 70 persen 30 persen tetapi kenapa sungai seperti dianaktirikan,” ungkapnya.

Melalui kegiatan The Stipram Conference on Ecotourism 2018 kali ini dia berharap pemerintah khususnya para pemangku kebijakan kepariwisataan tergugah semangatnya untuk secara serius mengelola sungai sebagai destinasi wisata.

Dr Ir Bambang Supriyadi CES DEA. (yvesta putu satrosoendjojo/koranbernas.id)

Seminar nasional yang merupakan agenda tahunan itu berlangsung dua hari hingga Jumat (23/02/2018). Adapun keynote speaker Koordinator Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta) Wilayah V DIY, Dr Ir Bambang Supriyadi CES DEA.

Adapun narasumber yang diundang terdiri dari pakar pariwisata UGM Prof Wiendu Nuryanti PhD, Samart Plangramool dari Thailand, Prof Dr Azril Azahari dari Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia, Prof Dr Wayan Suparta dari Malaysia.

Ada juga Dr Frans Teguh (Kementerian Pariwisata RI), Bambang Sasongko (Forum Masyarakat Cinta Sungai Indonesia) serta Drs Isdarmanto MM MPar (Stipram Yogyakarta).

Lebih lanjut Suhendroyono menyampaikan pihaknya merasa bangga pada seminar tahun  ini terkumpul 58 artikel berasal dari penulis-penulis andal maupun peneliti serta pakar pariwisata. (sol)