Wiwitan, Tradisi Nenek Moyang yang Masih Lestari

648
Petani Dusun Lanteng 2 Desa Selopamioro Kecamatan Imogiri  memulai panen raya dengan tradisi wiwitan. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Masyarakat di Kecamatan Imogiri selalu menjaga tradisi serta budaya yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Mereka merawatnya dengan cara terus menghidupkan tradisi tersebut secara turun temurun dan penuh sukacita.

Salah satunya adalah tradisi wiwitan. Inilah yang dilakukan petani di Dusun Lanteng 2 Desa Selopamioro saat hendak memulai panen raya. Tradisi serupa dilakukan para petani di pedusunan lain termasuk Siluk II.

Prosesi diawali dengan dibawanya uba rampe wiwitan ke pinggir sawah. Di antaranya berupa sega gurih, ingkung, klubanan, jajan pasar, pisang raja maupun sambel gepeng.

Sambel ini terbuat dari campuran kacang tholo dengan  ikan asin atau gereh goreng, diuleg dengan bumbu bawang, kencur, daun jeruk purut, garam serta cabai rawit.

Petani juga membawa kelapa muda sebagai pelengkap uba rampe. Setelah didoakan oleh tokoh agama, uba rampe wiwitan dimakan bersama-sama (kembul bujana) oleh para petani serta anak-anak. Selain dimakan di tempat, sebagian nasi dan uba rampe itu dibawa pulang.

“Setiap akan panen pasti kami menggelar tradisi wiwitan,” kata Sukiyo, Ketua Kelompok Tani Lanteng 2, pekan lalu. Tradisi ini sebagai ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta karena sudah diberi anugerah panen padi (Dewi Sri) yang melimpah. Biasanya usai panen dilanjutkan merti dusun.

Ketua Kelompok Tani Siluk 2, Sagiman, menyampaikan petani di desanya masih nguri-uri tradisi wiwitan. “Ini adalah wujud syukur kami. Tradisi wiwitan tetap dilestarikan hingga saat ini dan ke depan oleh generasi penerus di sini,” katanya.

Bukan hanya wiwitan, masih banyak tradisi dan budaya yang tetap dilestarikan di Kecamatan Imogiri. “Kami memang selalu nguri-uri tradisi yang hidup di masyarakat. Kami juga selalu menjaga warisan sejarah budaya, termasuk di antaranya tradisi nguras enceh,” kata Tri Tujiana AP MM, Camat Imogiri, secara terpisah.

Tradisi Nguras Enceh di Kompleks Makam Raja-raja Pajimatan, yang digelar setiap Jumat Kliwon bulan Sura penanggalan Jawa. (istimewa)

Upacara Adat Nguras Enceh di kompleks Makam Raja-Raja Mataram Imogiri digelar pada hari Jumat Kliwon bulan Sura penanggalan Jawa. Acara ini didahului tradisi ngarak siwur yang diselenggarakan sehari sebelumnya.

Siwur inilah yang digunakan untuk menguras enceh. Upacara Nguras Enceh adalah tradisi mengganti air gentong di Kompleks Makam Raja-Raja yang berjumlah empat buah.

Adapun nama-nama enceh adalah Gentong Kiai Danumaya, Kiai Danumurti, Kiai Mendung dan Nyai Siyem. Gentong Kiai Danumaya berasal dari Kerajaan Palembang, Kiai Danumurti dari Kerajaan Aceh, Kiai Mendung dari Kerajaan Ngerum Turki dan Nyai Siyem berasal dari Kerajaan Siam Thailand.

Dengan disertai doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, air kurasan yang dipercaya bisa membawa berkah itu selanjutnya dibagikan kepada warga, yang rela antre sejak pagi hari. (sol)