Wow, Gamelan Ditabuh 24 Jam

424
Tim karawitan dari Klaten tampil saat pembukaan 24 jam menabuh “Sound Of The Universe” di ISI Yogyakarta, Selasa (05/09/2017) malam. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERRNAS.ID — Sebuah pertunjukan kerawitan kelas dunia, 24 jam menabuh Sound Of The Universe digelar di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Jalan Parangtritis. Event ini dibuka oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di ruang pertunjukan kampus setempat, Selasa (05/09/2017) pukul 21:00.

Pembukaan dihadiri oleh Rektor ISI Yogyakarta Prof M Agus Burhan dan ratusan tamu undangan.  Selain di  dalam gedung pertunjukan, di gapura depan juga dimainkan  Kanjeng Kiai Madu, sebuah gamelan terbaik di dunia yang hanya ada dua yakni di ISI Yogyakarta dan STSI Sukararta. Pertunjukan gamelan ini berakhir, Rabu (06/09/2017) pukul 21:00.

Sultan mengatakan tanggal 5 September tahun 1977 pesawat tanpa awak voyager diluncurkan oleh NASA Amerika. Pesawat ini digunakan sebagai media untuk menjelajahi sistem tata surya dan menjalin kontak dengan makhluk yang kemungkinan hidup di luar bumi.

Astronom dari Universitas Cornell New York Carl Sagan, menyusun tim khusus untuk menyiapkan voyager sebagai media untuk menyampaikan pesan bagi peradaban ekstraterestrial. Pesawat tersebut dilengkapi alat pemutar data rekaman audio yang salah satunya adalah gending Puspawarna yang disandingkan dengan musik dunia lainnya.

Baca Juga :  Dua Suporter Bola Rusuh

Gending ini merupakan gending kebesaran Keraton Mangkunegaran dan Pakualaman  yang diciptakan oleh Mangkunegara IV. Kemudian gending direkam di Keraton Pakualaman.

Salah satu empu karawitan yang menjadi pioner perekaman dalah Wasitodiningrat yang secara kebetulan adalah Pengageng Langenpraja Pakualaman. Atas jasanya tersebut seorang komponis Lou Harison membuat proposal kepada NASA agar nama Wasitodiningrat diabadikan menjadi nama bintang.

Sedangkan Etnomusicolog Prof Robert E Brown mengusulkan gending Ketawang Puspawarna gubahan Wasitodiningrat dimuat di wahana penjelajah Voyager II. Dua usulan itu diterima oleh NASA, maka jadilah Wasitodiningrat sebagai bintang dalam  pengertian denotatif dan konotatif.

“Maka hari ini pertunjukan ini sekaligus menandai 40 tahun suara gending Puspawarna itu  itu diperdengarkan di ruang angkasa,” tutur Sultan.  Suara gending itu menjadi duta seni semesta. “Hal ini tentu harus menjadi pengingat kita semua untuk senantiasa melestarikan seni karawitan yang menjadi seni adiluhung warisan nenek moyang kita,” kata Sultan.

Baca Juga :  Anggota Pramuka Diingatkan Ancaman Disintegrasi

Sedangkan prof Burhan mengatakan kegiatan 24 jam menabuh gamelan ini diikuti 29 grup karawitan yang sudah berpengalaman dan mumpuni dari wilayah DIY, Klaten, Solo, Jakarta, Bandung dan beberapa wilayah lain.

Jumlah pengrawit mencapai 1.000 orang. Adapun mereka yang terlibat dalam pementasan 24 jam menabuh Sound of The Universe adalah 5 grup profesional, 3 grup kelompok anak-anak, 5 grup karawitan wanita, 3 grup karawitan SMTA, 13 UKM perguruan tinggi dan 1 grup hadroh. “Kami berharap di tahun-tahun selanjutnya kegiatan serupa tetap bisa dilaksanakan,”katanya. (sari wijaya)