Wow, Ternyata Warga Sleman Kurang Makan Sayur dan Buah

333
Bupati Sleman saat menghadiri lomba olahan pangan dalam rangka Hari Pangan Sedunia. (bid jalasutrai/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Kabupaten Sleman menggelar peringatan Hari Pangan Sedunia, Selasa (19/9) siang, di Halaman Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman. Dengan Tema ”Pemanfaatan Pekarangan Sebagai Lumbung Pangan Keluarga” merupakan salah satu perwujudan pelaksanaan Inpres No 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

Salah satu amanat Inpres itu adalah Bupati agar melaksanakan kegiatan pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam sayur dan buah. Plt Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman Dra Suyamsih MPd mengatakan, berdasarkan survey konsumsi pangan tahun 2016 yang dilakukan oleh kedinasannya maka skor Pola Pangan Harapan (PPH) aktual masyarakat Sleman adalah 87,1 dari skor ideal 100.

Hal itu mengindikasikan pola konsumsi masyarakat Sleman masih kurang beragam, bergizi dan seimbang. Apabila skor PPH tersebut dibedah lebih mendalam, terdapat indikasi bahwa masyarakat Sleman kurang dalam mengkonsumsi sayur dan buah. Hasil pemetaan konsumsi buah dan sayur menunjukkan, kecamatan yang tergolong wilayah pertanian justru skor PPH sayur dan buah cenderung lebih rendah dibanding wilayah kecamatan lainnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, mulai awal tahun 2017 Dinas Pertanian Sleman kini lebih intensif menggarap pemanfaatan pekarangan warga untuk memproduksi tanaman sayur dan buah melalui kegiatan yang berbasis wanita  seperti KWT, PKK, dasawisma dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan seperti ini diharapkan selain dapat meningkatkan skor PPH juga dapat menghemat belanja keluarga maupun meningkatkan pendapatan keluarga dari sayur dan buah yang mereka tanam.

Peringatan Hari Pangan Sedunia juga dimeriahkan dengan adanya berbagai lomba meliputi lomba aneka olahan kudapan berbahan dasar kopi, lomba memasak berbahan daging sapi, lomba aneka olahan basah dan kering berbahan dasar jagung, lomba memasak berbahan ikan yang masing masing lomba diikuti sebanyak 17 kelompok sedangkan Lomba aneka olahan berbahan kelor dengan peserta sebanyak 23 Kelompok Wanita Tani.

Adapun pemenang lomba olahan kering berbahan dasar jagung adalah KWT Krido Wanita Sendang Tirto Berbah, sedangkan untuk olahan basah berbahan dasar jagung dimenangkan KWT Sekar Arum Pakem.

Kategori lomba olahan kelor diraih KWT Sekar Melati Kecamatan Depok, sementara lomba olahan daging sapi juaranya disabet KWT Sedyo Rini Pakem, juara lomba olahan ikan dibawa pulang PKK Kecamatan Godean, dan pemenang lomba kudapan berbahan kopi diraih KWT Rukun Makarti Godean.

Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSi  didampingi  Ketua Tim Penggerak PKK Sleman Ny Kustini Sri Purnomo, pada kesempatan peringatan Hari Pangan juga menyerahkan alat-alat pertanian secara simbolis berupa enam unit traktor, empat unit genset, 15 unit hand tractor, 15 kultivator dan perajang yang merupakan bantuan sarana produksi bersumber dari dana APBD Kabupaten Sleman.

Tidak hanya itu Bupati juga menyerahkan Kartu Tani secara simbolis sejumlah 55.406 petani tahap I di Kabupaten Sleman. Dalam acara ini juga dihadirkan para prestator dalam rangkaian acara HPS Tingkat DIY, Juara Desa Mandiri Pangan tingkat DIY dan Prestator Adhikarya Pangan Nusantara Tingkat DIY tahun 2017.

Sri Purnomo menyampaikan bahwa perubahan iklim akibat pemanasan global serta serangan hama, yang mengakibatkan terganggunya produksi berbagai komoditas pangan, menyebabkan naiknya berbagai kebutuhan pangan.

“Namun jika kita merenung, kondisi ini, sebenarnya juga disebabkan  karena kita kurang mandiri dan sangat tergantung dengan produk-produk pangan dari luar. Oleh karena itu, kita harus mandiri, kita harus mampu memproduksi sendiri berbagai komoditas pangan. Bahkan kita bisa menjadi produsen, yang tidak lagi menjadi penerima harga, namun menjadi pihak yang menentukan harga,” kata Sri Purnomo.

Menurut Sri Purnomo kemandirian ini, harus dimulai dari lingkup yang kecil, yaitu keluarga. Masing-masing keluarga harus berupaya menjadi produsen berbagai komoditas pangan. Tidak harus terlebih dahulu memiliki modal yang besar, atau lahan yang luas, tetapi cukup dengan kemauan serta pekarangan sekitar, jadikan modal dalam mewujudkan kemandirian pangan ini.

“Di sekitar kita, seringkali kita jumpai lahan-lahan pekarangan yang terbengkalai. Kita harus menjadikan pekarangan kita sebagai lahan yang produktif,” tambahnya.

Terlebih lahan pertanian yang semakin menyempit dari tahun ketahun, membutuhkan terobosan dan kreativitas untuk tetap bisa mewujudkan ketahanan pangan. “Dengan ketekunan dan keseriusan, kita usahakan berbagai komoditas pangan, pertanian, perkebunan, peternakan, atau perikanan. Jika hal ini bisa kita wujudkan maka hasilnya akan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan kita bisa berkreasi dan menjualnya sehingga bisa menambah penghasilan keluarga kita,” kata Sri Purnomo.

Jika gerakan ini menjadi gerakan yang masif bagi seluruh masyarakat Sleman, maka kemandirian pangan di Kabupaten Sleman akan semakin terwujud.  (ros)