Yang Indah dari Bukit Menoreh

392
Pengunjung menikmati suasana Bukit Ngisis. Destinasi wisata ini berada di area perkebunan teh Dusun Nglinggo Desa Pagerharjo Samigaluh. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Wilayah Kecamatan Samigaluh kawasan Bukit Menoreh Kulonprogo ibarat mutiara yang terpendam. Terlepas dari ancaman longsor sebagai konsekuensi dari daerah perbukitan dengan kontur tanahnya yang agak labil, namun demikian daerah ini menyimpan banyak keindahan.

Salah satunya adalah Bukit Ngisis yang berada di tengah-tengah perkebunan teh Dusun Nglinggo Desa Pagerharjo. Di tepi bukit yang berbatasan langsung dengan wilayah Magelang serta Purworejo Jawa Tengah inilah wisatawan disuguhi pemandangan alam yang menawan.

Dari kejauhan Gunung Merapi menampakkan keindahannya. Cuaca yang cerah, udara yang segar, bunga-bunga mekar di sana sini, ditambah angin yang berhembus terasa dingin Selasa (20/03/2018) siang itu agaknya menjadi semacam keberuntungan bagi rombongan jurnalis Forum Wartawan Kepatihan tatkala berkunjung ke obyek wisata tersebut.

Ini merupakan bagian dari kegiatan Press Tour Dalam Daerah ke wilayah Kabupaten Kulonprogo bersama jajaran Seksi Publikasi, Dokumentasi dan Media Massa Bidang Humas Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY.

Bukit Ngisis merupakan destinasi wisata yang 100 persen menawarkan pesona alam ini, letaknya tidak jauh dengan obyek wisata yang sudah terkenal lebih dulu, Gunung Jaran dan hutan pinus. “Dinamai Bukit Ngisis karena udaranya dingin dan bisa ngisis di sini,” ungkap Teguh Kumoro, Kepala Dukuh Nglinggo.

Sebagai orang yang dituakan di Pokdarwis, dia mengakui Bukit Ngisis yang baru dibuka sekitar dua tahun silam itu awalnya sebagai alternatif singgah bagi wisatawan, terutama orang tua yang tidak kuat berjalan kaki menapaki 200 anak tangga menuju Gunung Jaran.

Di luar perkiraan, obyek wisata yang dikelola oleh dusun ini menjadi terkenal. Setidaknya pada tahun kemarin jumlah kunjungan wisatawan mampu menembus angka 63 ribu, dengan harga tiket masuk Rp 5.000 per orang. Memang, tingkat kunjungan tergantung faktor cuaca. Pernah ada tamu yang urung datang begitu mendengar kabar ada bencana longsor.

Baca Juga :  Proses Seleksi PPDB SMP di Sleman Dimulai

Teguh mengatakan, selain menonjolkan panorama alam, pihaknya selaku pengelola juga menawarkan paket wisata edukasi dan budaya berupa petik teh dan kopi, proses pembuatan gula aren maupun pentas tari Langger Tapeng. Paket tersebut lebih diminati kalangan pelajar dari kota yang belum pernah melihat pohon aren.

Sedangkan wisatawan asing maupun rombongan keluarga rata-rata menyukai paket tinggal di homestay. Sebagian lagi disambung dengan paket wisata offroad menggunakan kendaraan jip menuju Candi Borobudur melintasi rute yang ekstrem di antara celah-celah bukit.

Joko Kuncoro alias Japrak di rumah produksinya. Biola karya Japrak ini terkenal hingga mancanegara. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Biola Japrak

Tak hanya bentang alam yang menawarkan keindahan, wilayah perbukitan Samigaluh juga memiliki potensi beragam kerajinan. Sebut saja salah satunya Biola Japrak.

Produk instrumen musik karya Joko Kuncoro yang populer dipanggil Japrak ini sangat terkenal di luar negeri. Adapun rumah produksinya berada di Desa Gerbosari, di tepi jalan Samigaluh-Magelang serta tidak jauh dari obyek wisata baru, Puncak Tanggulangsi.

Yang menarik, biola Japrak diproses secara manual atau hand made. Para pelanggan justru mayoritas berasal dari luar negeri seperti Ukraina, Belanda, Italia dan Rusia. Japrak sendiri tidak pernah mengirim produknya melainkan pembeli yang justru datang ke rumah produksinya.

“Di sini pasarnya terbalik. Pemesan dari Italia, Timur Tengah dan Rusia justru mereka yang datang bertemu saya di sini. Jadi saya tidak kirim barangnya. Mereka mengetahui dari gethok tular dan relasi,” ungkap Japrak.

Usaha yang ditekuni sejak 13 tahun silam itu awalnya hanya untuk kebutuhan sendiri. Kebetulan di desanya ada grup musik keroncong yang membutuhkan banyak biola yang harganya mahal. Dengan bahan baku kayu sonokeling dan kayu lainnya yang banyak terdapat di Samigaluh, Japrak pun mulai memproduksi biola.

Melalui eksperimen bertahun-tahun, produk biola Japrak terbukti berkualitas hingga akhirnya terkenal sampai mancanegara. Bahkan Japrak berani memberikan jaminan biola produknya awet hingga puluhan tahun, berbeda dengan biola produk China, belum sampai dua tahun biasanya sudah mrotholi alias rontok.

Baca Juga :  Tahu Susu Bermanfaat Tangkal Kerusakan Sel

Berapa harganya? Menjawab pertanyaan sambil sesekali menggesek biola, dia mengakui harganya bervariasi mulai dari Rp 1 juta sampai yang paling termahal di atas Rp 10 juta.

Marwiyah menunjukkan kemasan Kopi Menoreh. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Kopi Menoreh

Sejenak, lupakan soal biola itu. Tak lengkap rasanya menyusuri Samigaluh tanpa mengunjungi Desa Sidoharjo. Di desa inilah kopi asli Menoreh diproduksi secara tradisional.

Marwiyah, adalah sosok yang mengenalkan Kopi Moka Menoreh hingga produknya terkenal di berbagai daerah di Indonesia dan mengangkat nama besar Kulonprogo.

Cita rasa kopi Menoreh memang khas karena diambil dari biji kopi yang tumbuh di antara pohon moka atau cokelat. Di dekat rumahnya terlihat pohon-pohon kopi yang sedang berbuah. Sebagian masih hijau, selebihnya kekuningan agak kemerahan pertanda sebenar lagi bisa dipetik dari pohonnya.

Pohon-pohon kopi itu merupakan peninggalan kakek-neneknya sejak bertahun-tahun silam. “Kopi Menoreh ini diambil dari pohon kopi yang ditanam di pegunungan Menoreh,” ungkapnya.

Yang unik dan menarik, proses produksi Kopi Menoreh sepenuhnya dilakukan secara tradisional dengan cara disangrai di atas tungku kayu bakar. Karena itu, cita rasanya pun tidak sama dengan kopi di daerah lain misalnya kopi Kintamani Bali maupun kopi Toraja.

Soal kendala yang dihadapi, Marwiyah mengakui dirinya belum mampu memasarkan produknya secara online karena memang tidak menguasai teknologi informasi.

Kepala Bidang Humas Diskominfo DIY, Amiarsi Harwani didampingi Kasie Publikasi, Dokumentasi dan Media Massa, Sukarmi, menyampaikan melalui kegiatan press tour terbentuklah jalinan kemitraan.

Kegiatan ini juga sebagai salah satu upaya Pemda DIY untuk turut serta mempromosikan potensi daerah yang perlu diangkat dan dipublikasikan sehingga lebih dikenal di kalangan masyarakat secara luas. (sol)