Yassir Malik Kembali ke Jagad Seni Rupa

501
Salah satu karya Yassir Malik yang dipamerkan di Tembi Rumah Budaya. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Sekitar 20 tahun “beristirahat”, perupa Yassir Malik kembali ke jagad seni rupa melalui pameran tunggalnya bertajuk Hibernated, mulai Kamis (13/09/2019) di Tembi Rumah Budaya. Pameran dibuka oleh Dr Edi Sunaryo MSn.

Sebetulnya selama ini Yassir tidak benar-benar istirahat karena masih berkecimpung di dunia seni rupa sebagai pengajar seni rupa di Universitas Tarumanegara Jakarta.

Yassir memilih untuk pensiun dini dan kembali ke Yogyakarta untuk lebih fokus berkarya. Dua pameran bersamanya pada 2016 di Galeri Nasional dan Taman Ismail Marzuki menjadi pemicu yang membangunkannya dari tidur panjang untuk kembali berseni rupa.

“Seni rupa bagi saya adalah ibadah untuk mengenal diri, sebagai manusia, suami, ayah dan makhluk bermartabat dari Sang Maha Pencipta,” kata Yassir.

Hibernated dipilih Yassir sebagai potret diri yang terbangun tidur untuk kembali berproses kesenian. Sebagian besar karya pada pameran ini, dibuat di atas media kertas dengan media cat akrilik/tinta China, karya seni cetak grafis, lino cut, screen printing dan media campuran.

Baca Juga :  MAI Fondation Dampingi Dua Sekolah di Magelang

Sedangkan temanya mengekpresikan kegelisahan mikro dan makro, tentang diri versus luar diri. “Bentuk seperti pohon yang muncul dalam karya seni grafis lino cut adalah representasi diri saya yang berusaha tegar dan kokoh, Kadang muncul bentuk manusia bersayap yang mungkin juga adalah keinginan saya untuk kembali pulang ke dunia seni rupa,” kata Yassir.

Kurator pameran, Kuss Indarto berkisah, pada pameran tunggal Yassir kali ini nyaris semua karyanya memiliki kecenderungan kreatif abstrak. Sejarah kreatif Yassir tentang hal itu sudah terlacak lebih dari 25 tahun lalu ketika masih kuliah.

Yassir menempuh pendidikan di program studi Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (1987-1994).

Saat kuliah, menurut Kuss, karya-karya Yassir begitu menarik perhatian. Kuss melihat Yassir tidak main terabas untuk langsung “lari” ke seni rupa abstrak karena telah melewati proses yang panjang yang memungkinkan menempa kemampuannya dalam berkarya dengan pendekatan realistik.

Baca Juga :  Mayat Perempuan Ditemukan di Bulak Sawah

Kuss teringat, karya-karya Yassir pada saat kuliah yang dibuatnya dengan medium silk screen atau hardboard cut — sebagai bagian dari teknis seni grafis atau printmaking art — cenderung banyak mengeksplorasi bentuk-bentuk abstrak.

Simple, pilihan warna baik blok atau pun gradasi yang terukur, cukup memberi warna yang khas di lingkungan program seni grafis di ISI Yogyakarta waktu itu. Gejala ini cukup menginspirasi lingkungannya, termasuk adik-adik kelasnya.

Yasir menyelesaikan studi program S1 di ISI Yogyakarta pada 1994, kemudian menempuh program S2 di De Monfort University, Leicester, Inggris.

Saat kuliah di ISI Yogyakarta, ia pernah meraih penghargaan karya seni terbaik dies natalis ISI Yogyakarta (1990), dan  sempat membentuk Grafis Bengkel bersama seniman grafis Syahrizal Pahlevi dan Hotland Tobing. (sol)